Tampilkan postingan dengan label Kawasan/Wilayah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kawasan/Wilayah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Maret 2018

ini dia 15 Tempat Wisata Di Jakarta Utara Terbaru yang wajib kalian kunjungi

Jakarta Utara merupakan sebuah Kota di DKI JAKARTA, Kota ini memiliki sejuta pesona dan panaroma alam yang menakjubkan dan masih banyak yang tersembunyi, sehingga masih banyak orang yang belum mengetahui akan keindahan dan tempat keren yang ada di Jakarta Utara. Jakarta Utara punya banyak Spot objek wisata keren, mulai dari Situs budaya, situs bersejarah, spot foto foto kekinian , sampai air terjun yang sangat memanjakan mata dan harus segera kalian explore.
Baiklah agar tidak panjang lebar, langsung saja ke titik tujuan artikel ini kami buat, Artikel ini bertujuan Untuk memudahkan Anda menemukan tempat wisata di Jakarta Utara yang paling indah, Terbaru dan di rekomendasikan untuk Anda Jelajahi. Berikut kami ulas secara singkat 15 Tempat Wisata di Jakarta Utara Terbaru yang harus segera Anda explore:

1. Taman Impian Jaya Ancol





Photo by .unsri.ac.id

Lokasi:  Jalan Lodan Timur No.7, RW.10, Ancol, Pademangan, Jakarta Utara

2. Dunia Fantasi





Photo by http://ratanika.net

Lokasi: Jl. Lodan Timur No.7, RW.10, Ancol, Pademangan, Kota Jkt Utara

3. SeaWorld Ancol





Photo by http://reportaseharga.com

Lokasi: Jl. Lodan Timur No. 7, RW.10, Ancol, Pademangan, Kota Jkt Utara

4. Ocean Dream Samudra Ancol





Photo by tokopedia.net

Lokasi:  Jl. Lodan Timur No.7, RW.10, Ancol, Pademangan, Kota Jkt Utara

5. Ecopark





Photo by wartakota.net

Lokasi: Jl. Lodan Timur No.7, RW.10, Ancol, Pademangan, Kota Jkt Utara

6. Pantai Ancol





Photo by Tribun Medan – Tribunnews.com

Lokasi: Jl. Lodan Timur No.7, RW.10, Ancol, Pademangan, Kota Jkt Utara

7. Atlantis Water Adventure Ancol





Photo by LaKupon.com

Lokasi: Jl. Lodan Timur No.7, RW.10, Ancol, Pademangan, Kota Jkt Utara

8. Waterbom Jakarta





Photo by http://hargakini.com

Lokasi: Jl. Pantai Indah Barat No.1, RT.7/RW.2, Kamal Muara, Penjaringan, Kota Jkt Utara

9. Alive Museum Ancol





Photo by goodluckyufare.blogspot.com

Lokasi: Jalan Ancol Beach City, Ancol, Pademangan, Ancol, Pademangan, Kota Jkt Utara

10. Suaka Margasatwa Muara Angke





Photo by http://basecamppetualang.blogspot.co.id/

Lokasi: RT.1/RW.16, Kapuk Muara, Penjaringan, Kota Jkt Utara

11. Taman Wisata Alam Mangrove Angke Kapuk





Photo by kompas.com

Lokasi: Jalan Garden House, RT.8/RW.1,  Kamal Muara, Penjaringan, Kota Jkt Utara

12. Ancol Fantastique





Photo by http://faithjosephine.blogspot.co.id/

Lokasi: RW.10, Ancol, Pademangan, Kota Jkt Utara,

13. Menara Syahbandar





Photo by http://restorasinews.com

Lokasi: RT.11/RW.4, Penjaringan, Kota Jkt Utara

14. Pantai Marunda





Photo by http://wartakota.com

Lokasi: Jl. Akses Rumah Si Pitung, RT.3/RW.7, Marunda, Cilincing, Kota Jkt Utara,

15. Taman Waduk Pluit





Photo by http://okezone.com

Lokasi: l. Pluit Timur Raya No.12, RT.6/RW.5, Pluit, Penjaringan, Kota Jkt Utara
Itulah 15 Objek Wisata di Jakarta Utara yang Menarik dan Direkomendasikan untuk Dikunjungi saat Anda berada atau memutuskan berlibur di Jakarta Utara. Semoga Artikel ini bermanfaat bagi pembaca. Selalu jaga lingkungan ya Guy, jangan membuang sampah sembarangan dan hormatilah kearifan lokal saat berkunjung ke Jakarta Utara. Semoga Liburanmu di Jakarta Utara Menyenangkan dan Puas Pastinya.

Selasa, 02 Januari 2018

Pentingnya Keberadaan Hutan Kota

 

Pentingnya Keberadaan Hutan Kota
Keberadaan hutan kota sangat penting bagi sebuah kota

Keberadaan Hutan Kota Wales Barat Bagi Lingkungan Sekitar


Hutan kota adalah sekumpulan pohon yang tumbuh dalam satu area di dalam atau di pinggir sebuah kota. Terbentuknya hutan kota bisa karena disengajakan dengan menyisakan sebagian tanaman atau pohon keras di sekitar area pemukiman karena area tersebut dulunya memang merupakan area hutan seperti yang terdapat di Kompleks Kopassus Cijantung Jakarta Timur. Bisa juga karena sengaja diciptakan dengan menanam sejumlah pohon di sebuah area tertentu seperti di sekitar  Monas yang dilakukan oleh presiden Soeharto pada tahun 1992.

Pentingnya Keberadaan Hutan Kota
Sinar mentari pagi di sela-sela pepohonan

Hutan kota sangat penting artinya bagi sebuah kota karena ia tidak saja berfungsi untuk menyediakan air tanah, menyegarkan udara, mengurangi kebisingan, mengurangi banjir, pelindung terik matahari, menurunkan suhu mikro, tetapi juga menjadi ruang terbuka hijau sebagai tempat rekreasi dan berolahraga.
  
Karena pentingnya keberadaan hutan kota bagi suatu kota di Indonesia, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) No.63 Tahun 2002 dimana 10% dari total wilayah sebuah kota haruslah dialokasikan sebagai hutan kota.

Sebuah kota tidak harus menempatkan suatu kawasan tertentu saja untuk dialokasikan sebagai hutan kota, tetapi lokasinya bisa disebar di seantero sebuah kota.

Bagaimana dengan Provinsi DKI Jakarta? Hmm .. Sayangnya luas keseluruhan hutan kota yang terdapat di Provinsi DKI Jakarta belum berada di titik ideal yang ditetapkan dalam PP tersebut karena luas Jakarta sendiri adalah 66.233 ha, sedangkan luas lahan yang diperuntukkan sebagai hutan kota masih berjumlah 149,76 ha yang tersebar di 15 lokasi.

Salah satu lahan hutan kota tersebut berada di kompleks kampus Universitas Indonesia (UI), yang sebenarnya juga menempati dua wilayah provinsi yakni DKI Jakarta dan Jawa Barat.    
Pentingnya Keberadaan Hutan Kota
Hutan Kota UI Wales Barat Jakarta Selatan

Hutan kota di kompleks kampus UI itu merupakan hutan kota terluas yang dimiliki DKI yaitu seluas 55,4 ha.

Salah satu area hutan kota di kompleks kampus UI tersebut adalah Hutan Kota Wales Barat yang masih termasuk bagian area Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Wilayah Kotamadya Jakarta Selatan dimana penulis pada hari pertama di awal tahun 2018, tepatnya pada Senin (1/1/2018), menghabiskan waktu paginya di sana untuk berolahraga.

Pentingnya Keberadaan Hutan Kota
Lari pagi di Hutan Wales Barat

Hutan Kota Wales Barat termasuk salah satu area yang disukai oleh banyak warga sekitar Srengseng Sawah dan Depok untuk berolahraga sekaligus berekreasi.

Pentingnya Keberadaan Hutan Kota
Setu atau danau buatan di Hutan Kota Wales Barat

Selain karena tempatnya yang tenang dan teduh, warga yang berolahraga juga bisa mendengarkan merdunya kicauan burung. Apalagi dengan keberadaan sebuah setu di sekitar Hutan Wales Barat itu yang membuatnya semakin menentramkan.




images: pribadi
sumber:jurnalbumi/wikipedia

 

 

 

  

Minggu, 31 Desember 2017

Tidak Ada Car Free Day di Jakarta Hari ini




Tidak Ada Car Free Day di Jakarta Hari ini

Pemprov DKI Jakarta telah menyiapkan beragam kegiatan di Kawasan Jalan Sudirman, Jalan MH Thamrin,  Jalan Medan Merdeka Barat hingga Monas untuk menyambut pergantian tahun yang akan dilakukan pada Minggu (31/12/2017) mulai jam 19:00 hingga jam 24:00 seperti yang disampaikan oleh Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Andri Yansyah yang dikutip dari Detik.com.
Demi penyelenggaraan acara perayaan menyambut tahun baru itu, maka dilakukan penutupan jalan yang dimulai sejak jam 17:00 hingga 01:00 WIB yang bertujuan untuk mengkondisikan dan mensterilkan lokasi acara dari kendaraan bermotor menjelang persiapan acara dilakukan.

Untuk kegiatan itu pula, maka Jalan Sudirman-Jalan Thamrin yang biasanya ditutup setiap Minggu pagi hingga siang untuk Kegiatan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (Car Free Day), hari ini ditiadakan.





                                                             Sumber: Detik
                                                                                 image:  2.bp.blogspot.com






Jumat, 29 Desember 2017

Di Suatu Senja di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan Srengseng Sawah Jagakarsa

 
Di Suatu Senja di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan Srengseng Sawah Jagakarsa.

Menikmati Bir Pletok di Setu Babakan

Seusai berkunjung ke Condet untuk melihat kebun buah terutama kebun salak yang dimiliki oleh Pemda DKI di Condet Balekambang pada Kamis (28/12/2017), penulis juga mampir di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan Srengseng Sawah Jagakarsa. Adapun tujuan penulis berkunjung ke kebun buah Condet adalah ingin memfoto sendiri kebun itu selain juga karena didorong oleh rasa penasaran alias 'kepo' :)


Kembali ke bahasan ... Saat berada di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan Srengseng Sawah Jagakarsa, penulis menyaksikan kegembiraaan warga menghabiskan waktu sore mereka dengan berbagai aktivitasnya seperti bermain layang-layang, main sepeda, dan duduk-duduk sembari ngobrol-ngobrol di berbagai warung makanan yang ada di lokasi. Suatu pemandangan yang menyenangkan melihat kegembiraan itu dengan adanya ruang publik untuk bersantai ria.

Di Suatu Senja di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan Srengseng Sawah Jagakarsa.
Kegembiraan warga menikmati waktu sore mereka di Setu Babakan


Tak lama setelah itu, waktu Maghrib tiba, maka penulis pun beranjak ke Mesjid Baitul Ma'mur yang megah yang letaknya di sekitar Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan Srengseng Sawah Jagakarsa, yang sekaligus menjadi salah satu ikon wilayah itu.

Seusai Maghrib, penulis memang berencana untuk mampir menikmati bir pletok di salah satu warung atau kafe yang berada di lokasi.

Di Suatu Senja di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan Srengseng Sawah Jagakarsa.
Bir Pletok segar di Warung Bang Ji'ih Setu Babakan

Awalnya penulis datang ke sebuah cafe baru dua lantai yang berdiri megah di moncong  (Gate 2) Setu Babakan yang terletak di Jalan Srengseng Sawah Raya. Seperti diketahui, Setu Babakan memiliki dua gate dimana gate satunya lagi terletak di Jalan Al-Kahfi 2. Sayangnya, bir pletok yang disajikan di cafe yang bernama Warung Bang Vian itu tidak disajikan dalam porsi yang kecil tetapi dalam porsi yang besar saja sehingga penulis pun memutuskan untuk mencarinya di warung lainnya yang berada di dalam Setu Babakan.

Masih banyak muda-mudi alias kids zaman now :) yang bercengkrama di bangku-bangku yang dijejer di pinggir Setu saat penulis memasuki sebuah warung khas Betawi yang bernama Warung Bang Ji'ih dan langsung memesan segelas bir pletok segar.

Warung Bang Ji'ih berdesain sederhana yang dihiasi dengan berbagai ornamen Betawi termasuk foto-foto Djakarta tempo doeloe dari berbagai tahun. Selain itu ada foto seniman legendaris Betawi Benyamin Sueb yang mempertegas bahwa seniman serba-bisa asli Kemayoran itu memang merupakan salah satu putra Betawi yang dibanggakan oleh masyarakat Betawi sebagaimana yang pernah penulis hadirkan juga di blog ini. Tak lupa, berbagai koleksi kaset Benyamin Sueb ikut dihadirkan pula sebagai memorabilia. Singkat kata, Warung Bang Ji'ih memang Betawi banget dah ... :)

Di Suatu Senja di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan Srengseng Sawah Jagakarsa.
Berbagai foto Djakarta tempo doeloe
Di Suatu Senja di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan Srengseng Sawah Jagakarsa.
Berbagai koleksi kaset Bang Ben

Di dalam warung, penulis berbincang-bincang dengan pemilik warung dan pengunjung warung lainnya yang diawali dengan sapaan akrab khas Betawi: "Dari mane, mau kemane?" :)

Banyak hal yang diperbincangkan yang tentu saja topik utamanya soal Betawi dan Setu Babakan. Penulis juga bercerita bahwa hari itu penulis berkunjung ke kebun buah di Condet. Bang Ji'ih menanggapinya dengan harapan agar Setu Babakan tidak akan mengalami nasib yang sama dengan Condet yang sebelumnya memang telah ditetapkan sebagai kawasan Cagar Budaya sebelum dicabut oleh Pemda DKI dan dialihkan ke Setu Babakan.

Dalam perbincangan tersebut, bang Ji'ih menyatakan optimismenya karena sebagian besar lahan di Setu Babakan sudah menjadi milik Pemda DKI karena sekitar 3 atau 4 tahun yang lalu, Pemda DKI masih menyewa sebagian lahan di sana.

Pembelian lahan oleh Pemda DKI itu tentu saja dimaksudkan sebagai upaya 'kasus' Condet tidak berulang kembali. Ya semoga saja demikian, karena keberadaan Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan Srengseng Sawah Jagakarsa itu memberikan warga sekitar sebuah ruang publik murah meriah untuk sejenak melepaskan kepenatan selain juga kental suasana kampungnya.

Waktu pun bergulir cepat dan jam tujuh tepat menjelang Isya, semua warung termasuk Warung Bang Ji'ih harus tutup karena demikianlah aturan yang ditetapkan kecuali warung-warung atau cafe-cafe yang berada di luar Setu Babakan, maka penulis pun pamit kepada bang Ji'ih dan pengunjung lainnya dan segera kembali ke Mesjid Baitul Ma'mur sebelum beranjak pulang. 



images: pribadi




Kamis, 28 Desember 2017

Kesemrawutan Pasar Tanah Abang

Kesemrawutan Pasar Tanah Abang


Mengurai Kesemrawutan Lalu Lintas di Sekitar Pasar Tanah Abang

 

Oleh: Akbar Muhamad


Seperti halnya lokasi-lokasi pasar pada umumnya, beberapa titik di Tanah Abang pada Rabu (27/12/2017) belum juga lepas dari yang namanya kemacetan, walaupun kondisinya merayap lancar. Inilah barangkali salah satu yang harus dicarikan solusinya.

Post kali ini mencoba mengindentifikasi beberapa penyebab kesemrawutan lalu lintas di sekitar Pasar Tanah Abang yang merupakan opini dari bapak Akbar Muhamad yang disampaikannya di facebook penulis ketika penulis mempostkan kesan penulis ketika berkunjung ke Pasar Tanah Abang pada Rabu.

Bapak Akbar Muhamad ini sendiri adalah seorang mantan pejabat di  Kementrian Perhubungan Republik Indonesia, Dinas Perhubungan Pemprov DKI dan juga mantan Direktur BLU Transjakarta. Jadi beliau sangat berkompeten untuk membahas permasalahan ini.

Berikut ulasan beliau dalam mengurai faktor-faktor penyebab kesemrawutan lalu lintas di sekitar Pasar Tanah Abang selain menyampaikan beberapa usulan yang mungkin dapat menjadi bahan pertimbangan sebagai upaya menemukan solusi mengatasi kesemrawutan lalu lintas di sekitar Pasar Tanah Abang.
.    
"Kesemrawutan lalu lintas di kawasan Tanah Abang disebabkan karena jumlah pejalan kaki yang banyak, volume kendaraan yang tinggi, angkutan umum dan ojek ngetem, parkir kendaraan, lalu lalang trolly barang, dan truk bongkar muat yang semuanya itu berada dalam satu level ruang yang sama, dan semuanya berebut tempat dalam ruang yang cukup sempit.

Beberapa usulan yang mungkin dapat dipertimbangkan:

1. Membangun fasilitas pejalan kaki yang cukup lebar dan nyaman di atas jalan, yang menghubungkan secara langsung stasiun kereta api dengan blok-blok gedung perdagangan di Tanah Abang. 

2. Mengubah layanan mikrolet/kopaja/metromini dari pengoperasian secara individual (menyebabkan mereka terpaksa ngetem) menjadi dikelola oleh satu manajemen dengan sistem kontrak (buy the service).

3. Kantor Jasa pengiriman barang (freight forwarder) yang tersebar dimana-mana sebaiknya lokasinya dipusatkan di satu kawasan, lokasi Blok G dan Bongkaran bisa dipertimbangkan, tujuannya agar lalu lintas trolly barang bisa lebih ditata.

4. Para pengojek didorong untuk membentuk asosiasi, nantinya melalui asosiasi ini akan lebih mudah untuk diajak rembukan dalam hal membatasi jumlah ojek, mengatur tempat mangkal, menjaga ketertiban dan sistem antrean.

5. Menjadikan Tanah Abang sebagai satu kawasan khusus dan mengangkat seorang Manajer yang khusus mengurusi Tanah Abang, seperti halnya kawasan kota tua dengan dibentuknya menjadi satu UPT."


Image:Pribadi
Sumber: Bapak Akbar Muhamad, mantan Direktur BLU Transjakarta

Jumat, 22 Desember 2017

Geliat Pasar Malam di Jagakarsa

 

Geliat Pasar Malam di Jagakarsa


Geliat pasar malam di Jagakarsa pada beberapa tahun terakhir ini memberikan alternatif bagi warga yang ingin membeli aneka keperluan mereka selain tentu saja mampu menggerakkan ekonomi masyarakat kecil.

Keberadaan pasar malam yang dibuka hanya sekali seminggu di sejumlah titik di Kawasan Jagakarsa ini terdapat  di Jalan Kebagusan Raya, Lapangan Al-Bayyinah, Jalan Al-Kahfi 1 dan 2, dan Jalan Sirsak.

Keberadaan pasar-pasar malam ini menurut penulis tidak mengganggu, kecuali pada beberapa kesempatan, karena kekurangdisiplinan beberapa warga yang berbelanja yang kadang memarkir motor-motor mereka tidak pada area semestinya terutama di Lapangan Al-Bayyinah yang terletak di persimpangan Srengseng Sawah dan Jalan Al-Kahfi 2 sehingga membuat gerak lalu lintas di sekitar situ menjadi agak tersendat. Tetapi karena hanya dibuka pada setiap Minggu malam dimana umumnya warga sedang berlibur, maka hal itu tidak terlalu mengganggu.

Bagi penulis sendiri yang hanya bepergian dengan mengendarai motor, hal itu tidak menjadi masalah sama sekali karena penulis sudah mengetahui kapan-kapan saja pasar-pasar itu beroperasi, juga telah mengetahui jalan-jalan alternatif yang bisa dilalui untuk menghindari kemacetan yang disebabkannya.

Namun demikian, pihak koordinator pasar-pasar tersebut agaknya harus lebih disiplin lagi dalam soal perparkiran ini seperti halnya perhatian pada segi keamanan dan ketertiban lingkungan yang hingga saat ini aman-aman saja.

Kembali ke topik, pasar malam bisa menjadi sarana hubungan kerjasama yang saling menguntungkan yang dalam istilah Biologi disebut sebagai simbiosis mutualisme itu karena mempertemukan dua obyek yang saling membutuhkan yaitu antara masyarakat ekonomi kecil dan para pedagang modal kecil.

Bagi para pedagang modal kecil, pasar malam menjadi sarana mereka untuk berjualan karena dengan keterbatasan modal yang mereka punyai, sulit bagi mereka untuk menyewa tempat berjualan permanen.

Keberadaan pasar malam juga menjadi sarana vital yang telah terbukti di saat krisis moneter melanda Indonesia beberapa tahun silam berhasil menjadi jaring pengaman sosial.

Selain itu, masyarakat yang memiliki anak-anak bisa juga terhibur dengan adanya aneka permainan sederhana.

Penulis sendiri kadang-kadang iseng untuk sekedar melihat-lihat dan kadang-kadang malah membeli berbagai barang karena harganya relatif lebih murah, selain juga bertujuan membantu gerak ekonomi masyarakat bawah sebagaimana penulis sendiri yang merupakan bagian dari masyarakat bawah.

Ingat pasar malam, penulis jadi teringat dengan salah satu lagu dari band yang sudah bubar yaitu band Symphony yang berjudul sama.

Dalam lagu dari band yang dimotori oleh musisi Fariz Roestam Moenaf ini menurut penulis mampu mengillustrasikan pasar malam dengan sangat baik .. hehe ... Yuk kita simak :)




sumber: youtube
image: akumassa

Condet yang Pernah Menjadi Kawasan Cagar Budaya

 
Condet yang Pernah Menjadi Kawasan Cagar Budaya

 

Condet yang Pernah Menjadi Kawasan Cagar Budaya 

 

Condet yang diambil dari nama anak sungai Ciliwung yang bernama Ci Ondeh atau Ci Ondet ini merupakan salah satu kecamatan di wilayah Kotamadya Jakarta Timur yang memiliki tiga kelurahan yang terdiri dari Balekambang, Batu Ampar dan Kampung Tengah.

Condet dulunya pernah ditetapkan sebagai kawasan Cagar Budaya dan Buah-buahan sebelum dicabut dan dipindahkan ke Kawasan Setu Babakan Srengseng Sawah, Jakarta Selatan pada 2004 silam.

Ditetapkannya Condet sebagai kawasan Cagar Budaya dan Buah-buahan terjadi di masa pemerintahan Gubernur Ali Sadikin melalui Surat Keputusan Gubernur DKI No.D.IV-1V-115/e/3/1974.

Gubernur Ali Sadikin menilai perlunya untuk kembali melestarikan kawasan  Condet dengan mengukuhkannya sebagai Kawasan Cagar Budaya dan Buah-buahan karena di masa itu, 90 persen warga Condet adalah suku Betawi.

Alam Condet yang masih utuh dan asri yang memiliki banyak kebun buah-buahan dan kaya akan seni budaya serta merupakan kawasan yang sangat relijius menjadi alasan-alasan lain mengapa Gubernur Ali Sadikin menetapkannya sebagai kawasan yang perlu dilindungi dan dilestarikan.
.
Seperti diketahui, dahulu Condet sangat terkenal dengan berbagai jenis buah-buahan, terutama Salak; hingga dijadikan maskot bus Transjakarta, dukuh dan durian.





.
Sebagaimana dikutip dari National Geographic, dalam sambutannya di buku Condet Cagar Budaya Betawi karya Ran Ramelan, Ali Sadikin mengatakan, “Untuk mengejar persyaratan sebagai kota metropolitan, pembangunan tidak perlu melenyapkan nilai-nilai lama yang telah ada. Planologi mesti memperhatikan nilai sosio-kultural, kalau tidak, maka hasil pembangunan yang kita capai tidaklah berakar pada bumi dimana kita berpijak.”

Dengan ditetapkannya sebagai Kawasan Cagar Budaya dan Buah-buahan, maka pemerintah daerah menyediakan anggaran untuk melestarikan kawasan Condet. Tetapi seiring dengan pergantian gubernur dan perubahan berbagai kebijakan membuat Condet terlupakan.

Setelah Ali Sadikin tidak lagi menjadi Gubernur DKI, Condet mengalami perubahan drastis yang membuat Condet tak lagi asri dan jumlah masyarakat Betawi yang mendiami Condet semakin berkurang hingga Condet nyaris tak ada bedanya dengan berbagai kawasan lainnya di ibukota.

Dengan kondisi tersebut, di masa Sutiyoso menjadi Gubernur DKI, status Condet sebagai Kawasan Cagar Budaya dan Buah-buahan yang ditetapkan oleh Ali Sadikin 30 tahun sebelumnya dicabut dan dipindahkan ke Setu Babakan, Srengseng Sawah, Jakarta Selatan.


image: 2.bp.blogspot.com
sumber:  National Geographic 

Kamis, 21 Desember 2017

Daerah-daerah Rawan Banjir di Jakarta

 
Daerah-daerah Rawan Banjir di Jakarta

 

Daerah-daerah Rawan Banjir di Jakarta

 

Daerah-daerah rawan banjir di ibukota perlu diketahui agar masyarakat dan pihak pemerintah di sekitar bisa melakukan berbagai upaya pencegahan dan penanganannya.

Menurut  Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), curah hujan yang cukup tinggi diperkirakan masih akan terjadi di wilayah DKI Jakarta dan sejumlah wilayah lainnya di Indonesia pada Desember 2017 hingga Februari 2018 ini.

Sama-sama telah diketahui, pada Senin (11/12/2017) lalu, sejumlah titik di wilayah Jakarta mengalami banjir seperti di yang terjadi di Jalan Rasuna Said Kuningan, Kolong Dukuh Bawah, di depan Mall Gandaria City dan lain-lainnya menyusul hujan lebat yang mengguyur ibukota pada hari itu.

Berikut daerah-daerah yang mengalami banjir pada Senin (11/12/2017) lalu tersebut di Jakarta sehingga daerah-daerah tersebut dikategorikan sebagai daerah-daerah rawan banjir pada periode Desember 2017 hingga Februari 2018 ini. Masyarakat termasuk aparat pemerintah di wilayah-wilayah itu diharapkan bisa melakukan berbagai upaya pencegahan dan penanganannya.

Jakarta Selatan
- Jalan Adityawarman, Blok M, Jakarta Selatan
- Jalan Kemang Utara IX Duren Tiga, Jakarta Selatan
- Komplek Menteri, di Jalan Denpasar, Jakarta Selatan
- Taman Darmawangsa, Jakarta Selatan
- Di depan Mal Gandaria City, Jakarta Selatan
- Di depan Gedung Wisma Mulia, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan
- Di depan kantor Kementerian Tenaga Kerja, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan
- Di belakang kantor Wali Kota Jakarta Selatan
- Di depan Muamalat Tower, Jalan Supomo, Jakarta Selatan
- Di depan Kampus Atmajaya dan Semanggi, Jakarta Selatan
- Di sepanjang Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan
- Di lampu merah Gandaria City, Jakarta Selatan
- Jalan Pejaten Raya
- Jalan Kebagusan II Jagakarsa

Jakarta Pusat
- Kolong Dukuh Bawah, Jakarta Pusat
- Di depan Hotel Ibis Budget, Cikini, Jakarta Pusat
- Di sepanjang Jalan R. Suprapto, Cempaka Putih, Jakarta Pusat

Jakarta Utara
- Di depan Gedung Altira, Jalan Yos Sudarso, Jakarta Utara
- Di perempatan MOI, Kelapa Gading, Jakarta Utara

Jakarta Barat
- Jalan S. Parman (Di depan Apartemen Slipi)

Jakarta Timur

- Kampung Melayu dan sekitarnya



Image Bildeco
Sumber: BMKG, Akun Twitter @BPBDJakarta dan @TMCPoldaMetro

 

Rabu, 20 Desember 2017

Salak Condet: Masih Adakah?

Salak Condet: Masih Adakah?

Salak Condet: Bagaimana Riwayatmu Kini?

 

Salak Condet pernah berjaya hingga membuatnya menjadi ikon Jakarta. Makanya kita bisa menyaksikan gambar salak condet pada bus-bus Transjakarta terutama sejak bus-bus itu mulai beroperasi pada 2004 lalu.

Salak Condet: Masih Adakah?
Gerbang Kebun Milik Pemda DKI di Condet Balekambang


Salak condet memang menjadi salah satu mata pencaharian andalan warga Condet tempo dulu yang umumnya merupakan warga asli Betawi yang dijual ke beberapa pasar yang terdapat di sekitar Condet seperti Pasar Minggu yang memang terkenal dengan beragam buahnya itu hingga sampai ada lagunya lho :), Pasar Kramat Jati, Kampung Melayu, Jatinegara, hingga ke Pasar Senen di Jakarta Pusat.

Salak Condet: Masih Adakah?
Kebun Milik Pemda DKI di Condet Balekambang

Salak condet konon dulunya ditanam hampir di setiap pekarangan rumah warga yang ada di Condet, namun seiring dengan pesatnya perkembangan kota Jakarta telah berimbas pula pada penyempitan lahan untuk bercocok tanam dan ruang terbuka lainnya karena digunakan untuk memenuhi tuntutan kemajuan kota, baik yang digunakan untuk hunian maupun untuk usaha yang tak pelak membuat lahan-lahan kebun salak termasuk yang berada di pekarangan warga Condet sekalipun secara perlahan menyusut hingga menjadi kian langka.

Lalu Apakah Salak Condet Masih Ada atau Sudah Punah Sama Sekali?

Meskipun kuantitasnya tak banyak seperti dulu lagi, kabar baiknya adalah salak condet masih ada alias belum punah walaupun lahan kebunnya kini seutuhnya telah dimiliki oleh Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta sebagai upaya pemerintah daerah untuk mempertahankan buah yang dalam Bahasa Inggris disebut sebagai Snake Fruit atau dalam istilah ilmiahnya disebut sebagai Salacca Zalacca itu.

Salak Condet: Masih Adakah?
Salak Condet: Masih Adakah?
Salak Condet


Lahan kebun salak condet itu terletak di Jalan Kayu Manis RT 7/5, Kelurahan Balekambang, Condet, Jakarta Timur dengan luas lahan 4 hektar yang juga ditanami dengan sejumlah jenis pohon buah tropis lainnya seperti mlinjo, duku, kecapi, dan bucung.

Area kebunnya sangat sepi, tenang, dan teduh di tengah perumahan warga yang padat. Penulis merasa bukan sedang berada di Jakarta.

Lucunya, ada juga warga yang malah tidak tahu dimana keberadaannya kecuali bila kita tanyakan kepada warga Condet asli ketika penulis datang kesana pada Kamis (28/12/2017) karena merasa penasaran.

Salak Condet: Masih Adakah?
Suasana tenang dan teduh kebun buah milik Pemda DKI di Condet Balekambang
Salak Condet: Masih Adakah?
Kondisi jalan yang bersih dan rapi di kebun buah milik Pemda DKI di Condet Balekambang yang bisa digunakan untuk trek jogging
Salak Condet: Masih Adakah?
Jalan menuju kebun buah Condet


Kita perlu mengapresiasi upaya yang dilakukan oleh pihak pemerintah daerah yang berusaha melestarikan keberadaan salak condet ini.



image:sporttourism/pribadi





Wisata Kepulauan Seribu: Pilihan Wisata di Masa Liburan Akhir Tahun

Wisata Kepulauan Seribu
Pulau Tidung

Wisata Kepulauan Seribu: Pilihan Wisata di Masa Liburan Akhir Tahun

 

Wisata Kepulauan Seribu  merupakan salah satu alternatif obyek wisata yang bisa dituju untuk mengisi liburan akhir tahun ini, terutama bagi warga ibukota karena letaknya masih dalam provinsi DKI Jaya yaitu di Teluk Jakarta.

Wisata Kepulauan Seribu menawarkan keindahan eksotis yang tak kalah indahnya dibandingkan berbagai obyek serupa lainnya di tanah air yang bisa dinikmati seperti di Pulau Putri, Pulau Sepa, Pulau Tidung, Pulau Ayer, Pulau Pari, Pulau Macan, Pulau Bintang, Pulau Pantara, Pulau Bidadari dan lain-lainnya.

Deburan ombak yang tidak terlalu besar dengan hamparan pasir putih yang terhampar hampir di sepanjang pantai gugusan pulau-pulau yang ada ditambah dengan rindangnya pepohonan dan udara segar akan memberikan kedamaian setelah tiap hari 'bercengkrama' dengan kemacetan ibukota dan semua rutinitas Anda.
 
Selain bisa menikmati keindahan pemandangan pantai yang masih asri dan udara segar, Anda bisa menginap di hotel dan berbagai jenis penginapan yang ada serta menikmati aneka hidangan laut di berbagai tempat makan dengan harga yang relatif terjangkau.

Disamping itu, Anda bisa mencoba snorkeling atau menyelam untuk melihat taman bawah laut yang memiliki beragam biota dan terumbu karang yang masih alami.


Bagi Anda yang mungkin baru pertama kali berwisata ke Kepulauan Seribu, barangkali perlu untuk memperhatikan tips berikut:
  1. Pastikan Anda telah sarapan sebelum berangkat ke lokasi yang Anda tuju karena perjalanan ke lokasi memerlukan waktu yang cukup lama.
  2. Menyediakan obat-obatan untuk berjaga-jaga untuk mengatasi mual (just in case).
  3. Membawa sunblock, sebagai upaya proteksi terhadap kulit Anda dari teriknya sinar matahari. Selain itu perlu juga dibawa kacamata hitam.
  4. Siapkan pakaian renang atau pakaian apa saja yang membuat Anda merasa nyaman bila Anda ingin melakukan kegiatan snorkeling atau hanya sekedar bermain air di pinggir pantai dan tentu saja berikut pakaian salinnya.
  5. Pastikan untuk memperhatikan barang bawaan dan check dengan teliti agar tidak tertinggal sebelum checkout  dan kembali ke Jakarta.


image:pulauseribu-resorts.com

Senin, 18 Desember 2017

Pasar Tanah Abang



Pasar Tanah Abang: Pusat Grosir Terbesar di Asia Tenggara

 

Pasar Tanah Abang yang kini telah menjelma sebagai salah satu sentra bisnis terpenting dan terbesar di ibukota memiliki sejarah yang sangat panjang


Pasar Tanah Abang yang berlokasi di Jakarta Pusat ini sudah ada sejak masa Gubernur Jenderal Abraham Patramini yang memberikan izin kepada Yustinus Vinck untuk membangun Pasar Tanah Abang pada tahun 1735.

Awalnya disebut Pasar Sabtu karena di masa itu, izin pendiriannya adalah untuk menjual barang-barang kelontong dan tekstil dan buka hanya pada hari sabtu saja.

Pasar Tanah Abang pernah mengalami kehancuran karena kerusuhan yang terjadi pada 1740 dan dibangun kembali pada 1881 dan beroperasi tidak hanya di hari Sabtu tetapi juga di hari Rabu.
Bangunan Pasar Tanah Abang dibangun secara sederhana karena terdiri dari dinding bambu dan papan serta atap rumbia saja.

Pasar Tanah Abang terus mengalami perbaikan hingga akhir abad ke-19 dimana bagian lantainya mulai dikeraskan dengan pondasi yang diaduk.

Pasar Tanah Abang kembali direnovasi hingga pada 1926, pemerintah Batavia membongkar total Pasar Tanah Abang dan diganti dengan bangunan permanen yang terdiri dari tiga buah los panjang yang terbuat dari tembok dan papan dengan ditutupi dengan atap genteng.

Seiring dengan beroperasinya Stasiun Tanah Abang membuat Pasar Tanah Abang semakin berkembang pesat hingga pada 1973, pemerintah DKI kembali melakukan peremajaan dan membangunnya menjadi bangunan berlantai empat yang terdiri dari empat bangunan pula dan sejak itu Pasar Tanah menjelma menjadi salah satu pusat grosir terbesar di Asia Tenggara.




image: alibaba.com
sumber: wikipedia

Jumat, 15 Desember 2017

Bintaro dan Cibubur itu Unik. Kok Bisa?

 

Seperti diketahui, beberapa kawasan di Provinsi DKI Jakarta berbatasan langsung dengan dua provinsi lainnya yakni Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Banten seperti Bintaro dengan Provinsi Banten dan Cibubur dengan Provinsi Jawa Barat. Masalahnya, tidak semua area di kedua kawasan itu sepenuhnya masuk dalam wilayah Provinsi DKI. Mengapa bisa demikian?


Pada post sebelumnya yaitu soal Festival Ondel-ondel yang sedianya diselenggarakan pada akhir tahun ini di Bintaro, disebutkan bila Bintaro termasuk wilayah DKI, padahal bila kita berada di Bintaro Jaya misalnya, beberapa sektor perumahan itu termasuk bagian dari Provinsi Banten.  


Bintaro yang diambil dari nama buah itu tidak sepenuhnya berada di wilayah Jakarta, tepatnya Jakarta Selatan karena sebagian besar kawasan Bintaro masuk dalam wilayah Provinsi Banten seperti beberapa sektor pada perumahan Bintaro Jaya dan Arya Graha yang berbatasan dengan Serpong, Provinsi Banten.

Adapun Taman Barat Bintaro yang menjadi tempat penyelenggaraan Festival Ondel-ondel Terbesar di akhir tahun ini masih merupakan wilayah ibukota, sama halnya dengan Bintaro Jaya Sektor 1 yang masuk bagian dari wilayah Pesanggerahan.

Hal ini memang agak sedikit membingungkan dan dulunya penulis sempat mengalami kebingungan yang sama.

Serupa halnya dengan kawasan Cibubur di Jakarta Timur dan Timur Jakarta karena sebagian Cibubur masih merupakan wilayah Kotamadya Jakarta Timur, tepatnya wilayah Ciracas. Sedangkan sebagian lagi seperti perumahan elit Raffless Hills masuk wilayah Depok, Provinsi Jawa Barat.

Uniknya lagi, sebagian kawasan Cibubur masuk bagian wilayah Kabupaten Bekasi meskipun masih dalam wilayah Provinsi Jawa Barat juga.

Satu contoh lagi adalah kompleks Kampus Universitas Indonesia (UI) karena terletak di dua provinsi yakni DKI dan Jawa Barat. Area asrama mahasiswa UI sebenarnya masih merupakan wilayah Provinsi DKI, tepatnya wilayah Srengseng Sawah.

Bintaro dan Cibubur itu Unik. Kok Bisa?
Hutan Kota Wales Barat di Kompleks Universitas Indonesia yang masuk bagian dari Wilayah Jakarta Selatan

Begitu juga dengan Hutan Wales yang berdekatan dengan asrama mahasiswa tadi. Tetapi hanya berjarak sepelemparan batu dari situ, lokasi dimana warung Mang Engking berada sudah menjadi bagian wilayah Depok atau Provinsi Jawa Barat :)

image:
latitudes.nu/pribadi