Kesemrawutan Pasar Tanah Abang

Kesemrawutan Pasar Tanah Abang


Mengurai Kesemrawutan Lalu Lintas di Sekitar Pasar Tanah Abang

 

Oleh: Akbar Muhamad


Seperti halnya lokasi-lokasi pasar pada umumnya, beberapa titik di Tanah Abang pada Rabu (27/12/2017) belum juga lepas dari yang namanya kemacetan, walaupun kondisinya merayap lancar. Inilah barangkali salah satu yang harus dicarikan solusinya.

Post kali ini mencoba mengindentifikasi beberapa penyebab kesemrawutan lalu lintas di sekitar Pasar Tanah Abang yang merupakan opini dari bapak Akbar Muhamad yang disampaikannya di facebook penulis ketika penulis mempostkan kesan penulis ketika berkunjung ke Pasar Tanah Abang pada Rabu.

Bapak Akbar Muhamad ini sendiri adalah seorang mantan pejabat di  Kementrian Perhubungan Republik Indonesia, Dinas Perhubungan Pemprov DKI dan juga mantan Direktur BLU Transjakarta. Jadi beliau sangat berkompeten untuk membahas permasalahan ini.

Berikut ulasan beliau dalam mengurai faktor-faktor penyebab kesemrawutan lalu lintas di sekitar Pasar Tanah Abang selain menyampaikan beberapa usulan yang mungkin dapat menjadi bahan pertimbangan sebagai upaya menemukan solusi mengatasi kesemrawutan lalu lintas di sekitar Pasar Tanah Abang.
.    
"Kesemrawutan lalu lintas di kawasan Tanah Abang disebabkan karena jumlah pejalan kaki yang banyak, volume kendaraan yang tinggi, angkutan umum dan ojek ngetem, parkir kendaraan, lalu lalang trolly barang, dan truk bongkar muat yang semuanya itu berada dalam satu level ruang yang sama, dan semuanya berebut tempat dalam ruang yang cukup sempit.

Beberapa usulan yang mungkin dapat dipertimbangkan:

1. Membangun fasilitas pejalan kaki yang cukup lebar dan nyaman di atas jalan, yang menghubungkan secara langsung stasiun kereta api dengan blok-blok gedung perdagangan di Tanah Abang. 

2. Mengubah layanan mikrolet/kopaja/metromini dari pengoperasian secara individual (menyebabkan mereka terpaksa ngetem) menjadi dikelola oleh satu manajemen dengan sistem kontrak (buy the service).

3. Kantor Jasa pengiriman barang (freight forwarder) yang tersebar dimana-mana sebaiknya lokasinya dipusatkan di satu kawasan, lokasi Blok G dan Bongkaran bisa dipertimbangkan, tujuannya agar lalu lintas trolly barang bisa lebih ditata.

4. Para pengojek didorong untuk membentuk asosiasi, nantinya melalui asosiasi ini akan lebih mudah untuk diajak rembukan dalam hal membatasi jumlah ojek, mengatur tempat mangkal, menjaga ketertiban dan sistem antrean.

5. Menjadikan Tanah Abang sebagai satu kawasan khusus dan mengangkat seorang Manajer yang khusus mengurusi Tanah Abang, seperti halnya kawasan kota tua dengan dibentuknya menjadi satu UPT."


Image:Pribadi
Sumber: Bapak Akbar Muhamad, mantan Direktur BLU Transjakarta

0 komentar