Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Maret 2018

ini dia 15 Tempat Wisata Di Jakarta Utara Terbaru yang wajib kalian kunjungi

Jakarta Utara merupakan sebuah Kota di DKI JAKARTA, Kota ini memiliki sejuta pesona dan panaroma alam yang menakjubkan dan masih banyak yang tersembunyi, sehingga masih banyak orang yang belum mengetahui akan keindahan dan tempat keren yang ada di Jakarta Utara. Jakarta Utara punya banyak Spot objek wisata keren, mulai dari Situs budaya, situs bersejarah, spot foto foto kekinian , sampai air terjun yang sangat memanjakan mata dan harus segera kalian explore.
Baiklah agar tidak panjang lebar, langsung saja ke titik tujuan artikel ini kami buat, Artikel ini bertujuan Untuk memudahkan Anda menemukan tempat wisata di Jakarta Utara yang paling indah, Terbaru dan di rekomendasikan untuk Anda Jelajahi. Berikut kami ulas secara singkat 15 Tempat Wisata di Jakarta Utara Terbaru yang harus segera Anda explore:

1. Taman Impian Jaya Ancol





Photo by .unsri.ac.id

Lokasi:  Jalan Lodan Timur No.7, RW.10, Ancol, Pademangan, Jakarta Utara

2. Dunia Fantasi





Photo by http://ratanika.net

Lokasi: Jl. Lodan Timur No.7, RW.10, Ancol, Pademangan, Kota Jkt Utara

3. SeaWorld Ancol





Photo by http://reportaseharga.com

Lokasi: Jl. Lodan Timur No. 7, RW.10, Ancol, Pademangan, Kota Jkt Utara

4. Ocean Dream Samudra Ancol





Photo by tokopedia.net

Lokasi:  Jl. Lodan Timur No.7, RW.10, Ancol, Pademangan, Kota Jkt Utara

5. Ecopark





Photo by wartakota.net

Lokasi: Jl. Lodan Timur No.7, RW.10, Ancol, Pademangan, Kota Jkt Utara

6. Pantai Ancol





Photo by Tribun Medan – Tribunnews.com

Lokasi: Jl. Lodan Timur No.7, RW.10, Ancol, Pademangan, Kota Jkt Utara

7. Atlantis Water Adventure Ancol





Photo by LaKupon.com

Lokasi: Jl. Lodan Timur No.7, RW.10, Ancol, Pademangan, Kota Jkt Utara

8. Waterbom Jakarta





Photo by http://hargakini.com

Lokasi: Jl. Pantai Indah Barat No.1, RT.7/RW.2, Kamal Muara, Penjaringan, Kota Jkt Utara

9. Alive Museum Ancol





Photo by goodluckyufare.blogspot.com

Lokasi: Jalan Ancol Beach City, Ancol, Pademangan, Ancol, Pademangan, Kota Jkt Utara

10. Suaka Margasatwa Muara Angke





Photo by http://basecamppetualang.blogspot.co.id/

Lokasi: RT.1/RW.16, Kapuk Muara, Penjaringan, Kota Jkt Utara

11. Taman Wisata Alam Mangrove Angke Kapuk





Photo by kompas.com

Lokasi: Jalan Garden House, RT.8/RW.1,  Kamal Muara, Penjaringan, Kota Jkt Utara

12. Ancol Fantastique





Photo by http://faithjosephine.blogspot.co.id/

Lokasi: RW.10, Ancol, Pademangan, Kota Jkt Utara,

13. Menara Syahbandar





Photo by http://restorasinews.com

Lokasi: RT.11/RW.4, Penjaringan, Kota Jkt Utara

14. Pantai Marunda





Photo by http://wartakota.com

Lokasi: Jl. Akses Rumah Si Pitung, RT.3/RW.7, Marunda, Cilincing, Kota Jkt Utara,

15. Taman Waduk Pluit





Photo by http://okezone.com

Lokasi: l. Pluit Timur Raya No.12, RT.6/RW.5, Pluit, Penjaringan, Kota Jkt Utara
Itulah 15 Objek Wisata di Jakarta Utara yang Menarik dan Direkomendasikan untuk Dikunjungi saat Anda berada atau memutuskan berlibur di Jakarta Utara. Semoga Artikel ini bermanfaat bagi pembaca. Selalu jaga lingkungan ya Guy, jangan membuang sampah sembarangan dan hormatilah kearifan lokal saat berkunjung ke Jakarta Utara. Semoga Liburanmu di Jakarta Utara Menyenangkan dan Puas Pastinya.

Dua Sisi Ondel-Ondel Jalanan di jakarta




Mereka sengaja mengusung kesenian Betawi tersebut untuk mengamen beberapa bulan ini di rute yang sama setiap harinya. Menurut mereka, metode ini lebih menguntungkan ketimbang mengamen biasa, seperti membawa kecrekan misalnya.


Tiap hari keliling gini, kadang dari siang abis Zuhur, kadang dari sore sampai malam jam 9-an. Ondel-ondelnya dapet nyewa di daerah Depok 2. Sehari nyewa bayar Rp 120 ribu," ujar Arif saat ditemui Liputan6.com di daerah Kalisari, Jakarta Timur, Jumat, 9 Maret 2018.
Jika dikurangi uang sewa, rata-rata mereka mendapat bagian Rp 50.000 per orang. "Lumayan per orang dapatnya bisa 50 ribuan-lah. Uangnya sebagian buat bantu orangtua di rumah, sebagian buat nambah jajan," kata Arif.
Ketika menjalankan "usahanya" tersebut, Arif bertugas mendorong gerobak sound system, dua temannya sebagai pengumpul uang mengamen, dan satu temannya lagi menggunakan ondel-ondel. 
Selama menjadi pengamen jalanan, Arif bercerita, banyak orang atau anak kecil yang minta berfoto dengan ondel-ondelnya. Dia merasa semua orang senang dengan kehadiran ondel-ondel jalanan. Bahkan, dia berceloteh jika tak pernah kena palak preman maupun Satpol PP. 
"Seneng tiap ngamen orang-orang ngasih duit. Anak kecil juga banyak yang minta foto, dari situ dapat duit deh dari orangtua tuh anak. Tiap hari rutenya sama, istilahnya udah hafal daerah-lah. Udah gitu wilayah Kalisari-Depok aman, enggak ada preman apa enggak Satpol PP," tutur Arif.
Bagai dua sisi mata uang, mengamen ondel-ondel seperti yang Arif lakukan ini memiliki sisi negatif dan positif.
Positifnya, dia dapat membantu perekonomian keluarga. Namun, di sisi lain ada fakta sedih di balik pengamen ondel-ondel. Arif dan kawan-kawannya yang duduk di bangku sekolah dasar dan menengah nyatanya telah putus sekolah. Alasannya, karena keadaan ekonomi, sehingga menyebabkan mereka malas untuk melanjutkan sekolah. Mirisnya kedua orangtua Arif masih lengkap. Namun, ayahnya tak lagi bekerja.
"Orangtua masih ada, sehat dua-duanya. Ngamen gini buat bantu orangtua, ya daripada nganggur di rumah, kan, mending ngamen dapet duit," tutur Arif.
Banyak pemerhati budaya Betawi yang menyayangkan kegiatan seperti yang dilakukan Arif dan kawan-kawannya. Mengamen ondel-ondel ini dianggap telah melukai budaya Betawi.
"Tahu sih, ini katanya bikin jelek budaya Betawi, tapi kita bisa apa? Sekarang buat kita yang penting bisa cari duit," ujar Arif yang disusul anggukan setuju kawan-kawannya.

1 dari 2 halaman

Jatuhkan Budaya Betawi?







Salah satu perajin ondel-ondel sekaligus pemilik sanggar ondel-ondel Mpo' Minah, Miji menilai ondel-ondel jalanan telah menjatuhkan budaya Betawi. Namun, ia pun tak bisa menyalahkan sepenuhnya ke pengamen ondel-ondel, karena sulitnya mendapat mata pencaharian lain.
Sebagai orang Betawi asli, Miji menduga ondel-ondel jalanan berawal dari jarangnya hajatan yang menampilkan pertunjukan ondel-ondel sekarang ini. Pemilik ondel-ondel kemudian menyewakan ondel-ondelnya ke pengamen.
"Ramai pengamen ondel-ondel nih saya enggak setuju. Ini kan jadinya ngejatuhin budaya Betawi,dianggep rendah budaya kita. Tapi misalnya saya bilangin tuh ke para pengamen ondel-ondel kayak gitu, mereka (pengamen ondel-ondel) nanti malah bilang emang lu bisa kasih gua nafkah," ujar Miji.
Oleh karena itu, kata dia, perlu adanya perhatian dari pemerintah. Dia berharap pemerintah bisa bekerja sama dengan pemerhati budaya Betawi, agar kesenian ondel-ondel dapat terus ada dengan tetap menjunjung nilai-nilai budayanya.
Muji sendiri masih membuat ondel-ondel sebagai usaha turun-temurun keluarganya.
"Sanggar ini turun-temurun. Tahun 1945 kita udah produksi ondel-ondel. Sejarahnya sanggar ini enggak sembarang, kita dapat nama ondel-ondelnya dari Kramat Kali Miring dari Mpok Minah. Makanya kita namain Sanggar Mpo' Minah," ujar pemilik sanggar, Miji, saat ditemui Liputan6.com di daerah Setu, Jakarta Timur, Kamis, 8 Maret 2018. 
Selain membuat ondel-ondel, ia menyewakan ondel-ondelnya untuk acara pernikahan, khitanan, dan acara yang berkaitan dengan budaya Betawi. Dia masih memegang teguh pakem-pakem dalam kesenian ondel-ondel, seperti tidak menggunakan ondel-ondel untuk sembarang acara.
"Kalau ada acara-acara kayak nikahan, sunatan gitu saya sewain. Itu dari mana aja yang nyewa. Kitasewain sepasang udah termasuk sama alat musiknya. Selama pementasan ondel-ondel ada aturannya, kayak pake baju seragam yang rapih gitu," ujar Miji.

Selasa, 09 Januari 2018

Eksistensi Pasar Tradisional di Tengah Perkembangan Jakarta (Bagian Kedua)

Pasar tradisional adalah cerminan ekonomi masyarakat kelas bawah dan menengah dan menjadi sandaran para penggerak ekonomi masyarakat di level-level tersebut.
Salah satu pojok Pasar Minggu Jakarta Selatan

 

Pasar Tradisional sebagai Simbol Ekonomi Kerakyatan

 

Pasar tradisional adalah salah satu penggerak ekonomi masyarakat kelas bawah dan menengah dan menjadi sandaran pelaku ekonomi masyarakat di level-level tersebut. Sementara itu, di tengah arus globalisasi sekarang ini, keberadaan pasar tradisional di kota-kota besar terutama Jakarta sepertinya kian tersudut dengan kehadiran berbagai pusat perbelanjaan modern dan lengkap termasuk untuk barang-barang ritel. 


Globalisasi ekonomi memiliki dua sisi mata uang karena ia bisa meningkatkan perekonomian tetapi juga berkecenderungan untuk mengambil alih ekonomi masyarakat menengah bawah yang menjadi pembenaran neoliberalisme dengan menumpukan hanya pada mekanisme pasar. 

Seperti diketahui, sewaktu krisis moneter memporakporandakan ekonomi Indonesia pada dua dekade lalu, sektor ekonomi inilah yang terbukti mampu menjadi salah satu jaring penyelamat sosial. 

Selain itu, konstitusi negara kita seperti tertulis pada UUD 1945 Pasal 33 yang memiliki sejumlah landasan hukum yang mengatur ekonomi kerakyatan sehingga kehadiran negara melalui pemerintah, dari pusat hingga daerah sangat sangatlah vital. Adapun sejumlah landasan hukum tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Ayat 1 : Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan.
  2. Ayat 2 : Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara.
  3. Ayat 3 : Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalanmya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
  4. Ayat 4 : Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.
  5. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang.
Berdasarakan bunyi ayat dalam pasal 33 tersebut dapat diketahui karakteristik perekonomian Indonesia di antaranya sebagai berikut:
  • Kekeluargaan menjadi azas mendasar dalam demokrasi ekonomi Indonesia.
  • Peran Negara sangat penting dalam mengelola sumber daya ekonomi yang penting bagi masyarakat.
  • Kemakmuran masyarakat menjadi prioritas utama dalam pengelolaan sumber daya ekonomi yang terdapat di tanah air Indonesia, bukan kemakmuran seseorang atau kelompok orang.
  • Melarang adanya penguasaan sumber daya alam ditangan perorangan atau pihak-pihak tertentu. Dengan kata lain monopoli, oligopoli maupun praktik kartel dalam bidang pengelolaan sumber daya alam dianggap bertentangan dengan prinsip Pasal 33 UUD 1945.
  • Perekonomian indonesia ditopang oleh tiga pelaku utama yaitu Koperasi, BUMN/D (Badan Usaha Milik Negara/Daerah), dan Badan Usaha Milik Swasta (BUMS) yang akan mewujudkan demokrasi ekonomi yang bercirikan mekanisme pasar, serta intervensi pemerintah, serta pengakuan terhadap hak milik perseorangan.
  • Jiwa dari Pasal 33 UUD 1945 yang berlandaskan semangat sosial, menempatkan penguasaan terhadap berbagai sumber daya untuk kepentingan publik (seperti sumber daya alam) pada negara.
  • Kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional menjadi prinsip dasar yang harus diperhatikan oleh setiap pelaku ekonomi di Indonesia.
Post kali ini adalah sekuel dari post sebelumnya seperti bisa dibaca di sini, dimana penulis sangat mengapresiasi upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah DKI Jaya yang telah dan sedang merivitalisasi sejumlah pasar tradisional di Jakarta dan berusaha untuk sedikit banyak mengikuti perkembangannya.

Terkait hal itu sebagaimana dikutip dari Republika pada Kamis (4/1/2018) lalu yang mewartakan bahwa Wakil Gubernur (Wagub) DKI Sandiaga Uno meminta kepada jajaran PD Pasar Jaya untuk mempercepat revitalisasi pasar tradisional.

"Tadi Pak Arief (Direktur PD Pasar Jaya) sudah hadir bersama jajarannya dan kami sudah memberikan arahan agar revitalisasi pasar tradisional dipercepat, juga terutama yang berkaitan dengan pembangunan yang berbasis transportasi," kata Sandiaga Uno

Masih dikutip dari Republika, Sandiaga Uno juga menyebut bila penyertaan modal daerah yang dilakukan pada tahun 2013 maupun beberapa tahun setelah itu masih belum optimal dari segi penyerapannya.

"Jadi kami mendorong agar penyerapannya bisa ditingkatkan sehingga lahan usaha bagi para pedagang kecil terutama pedagang kecil Mandiri, pedagang mikro bisa hadir dan ini tempat-tempatnya sangat strategis lokasinya di 153 lokasi pasar tradisional," jelas Sandiaga Uno.







image: ews.kemendag.go.id
sumber: dikarnakan.blogspot.co.id/Republika

Kamis, 04 Januari 2018

Melihat Geliat Usaha Permak Pakaian di Pisangan Jatinegara Jakarta Timur

Melihat Geliat Usaha Permak Pakaian di Pisangan Jatinegara Jakarta Timur
Usaha Permak Pakaian

Tempat Usaha Permak Pakaian di Pisangan Terlalu Beresiko

Seringkali setiap membeli pakaian terutama celana panjang berbahan jeans, kita merasa kurang sreg  dengan ukuran panjangnya sehingga kita perlu jasa tukang jahit untuk memperbaikinya. Begitu juga ketika tiba-tiba kancing atau ritsleting (lebih sering ditulis resleting) atau zipper  celana atau jaket kita mengalami kerusakan.

Bila penulis mengalami hal-hal seperti itu, penulis sering merasa kesal, apalagi saat itu ingin sekali memakai pakaian tersebut. Menjadi bertambah kesal apabila ketika penulis meminta jasa tukang jahit untuk memperbaikinya, seringkali ditolak. Tetapi untunglah kini banyak ditemui jasa permak pakaian untuk mengatasi permasalahan demikian.

Jasa permak pakaian dalam beberapa tahun ini sepertinya selalu stabil bahkan cenderung mengalami peningkatan terutama yang langsung menerapkan 'sistem jemput bola'  alias mobile. Para penggiat jasa ini cukup jeli melihat ceruk pasar (market niche)  usaha mereka.  

Jasa permak pakaian ini sering kita temui di berbagai sudut ibukota, baik yang mobile  maupun yang ngendon  atau berdiam di suatu tempat permanen seperti yang bisa kita lihat di beberapa titik di Kawasan Jagakarsa dan Margonda Depok.

Umumnya mereka-mereka ini memiliki tempat yang lebih nyaman dibandingkan dengan rekan-rekan mereka yang membuka usaha mereka di bawah kolong jembatan seperti terlihat di wilayah Pisangan, Jatinegara Jakarta Timur.

Dalam post kali ini, penulis hendak memfokuskan pada pembahasan sekilas tentang keberadaan para penggiat jasa permak pakaian ini terutama yang membuka jasa mereka di tempat-tempat yang rawan seperti di kolong jembatan di Pisangan Jatinegara yang tak jauh dari Stasiun Jatinegara dan Pasar Rawabening itu.

Adapun tujuan penulis menghadirkan bahasan ini adalah dengan harapan, siapa tahu, ada pembaca yang bisa mengabarkan kepada pengambil kebijakan agar bisa menemukan tempat-tempat yang kondusif dan lebih aman yang tentunya dengan harga yang rasional.

Alasannya, penulis melihat keberadaan mereka di bawah kolong jembatan itu sangat beresiko bagi keselamatan, bukan saja bagi keselamatan mereka para penggiat usaha ini, tetapi juga keselamatan para pelanggan mereka dan keselamatan para pengendara yang melintasi area dimana para penggiat jasa itu membuka saja mereka.

Demikian yang terpikirkan oleh penulis ketika melewati area itu pada akhir Desember lalu saat penulis hendak menuju ke Rawamangun dimana penulis iseng untuk sengaja mencoba melewati jalur yang tak lazim :)

Penulis tentu saja tidak memiliki rasa antipati kepada para penggiat usaha ini, melainkan sangat respek dan bersimpati karena mereka sangat kreatif dan mandiri. Mereka jelas tidak melakukan kriminalitas, hanya saja karena keterbatasan modal yang mereka miliki membuat mereka harus membuka usaha mereka di tempat yang beresiko tersebut.

Namun demikian, sebagaimana para pedagang kaki lima yang mesti tertata dengan baik demi penciptaan ketertiban dan keindahan lingkungan serta alasan resiko seperti disebutkan di atas maka sudah selayaknya agar Pemda DKI mencarikan solusi terhadap permasalahan ini.      



image: 2.bp.blogspot.com


  

Kamis, 28 Desember 2017

Kesemrawutan Pasar Tanah Abang

Kesemrawutan Pasar Tanah Abang


Mengurai Kesemrawutan Lalu Lintas di Sekitar Pasar Tanah Abang

 

Oleh: Akbar Muhamad


Seperti halnya lokasi-lokasi pasar pada umumnya, beberapa titik di Tanah Abang pada Rabu (27/12/2017) belum juga lepas dari yang namanya kemacetan, walaupun kondisinya merayap lancar. Inilah barangkali salah satu yang harus dicarikan solusinya.

Post kali ini mencoba mengindentifikasi beberapa penyebab kesemrawutan lalu lintas di sekitar Pasar Tanah Abang yang merupakan opini dari bapak Akbar Muhamad yang disampaikannya di facebook penulis ketika penulis mempostkan kesan penulis ketika berkunjung ke Pasar Tanah Abang pada Rabu.

Bapak Akbar Muhamad ini sendiri adalah seorang mantan pejabat di  Kementrian Perhubungan Republik Indonesia, Dinas Perhubungan Pemprov DKI dan juga mantan Direktur BLU Transjakarta. Jadi beliau sangat berkompeten untuk membahas permasalahan ini.

Berikut ulasan beliau dalam mengurai faktor-faktor penyebab kesemrawutan lalu lintas di sekitar Pasar Tanah Abang selain menyampaikan beberapa usulan yang mungkin dapat menjadi bahan pertimbangan sebagai upaya menemukan solusi mengatasi kesemrawutan lalu lintas di sekitar Pasar Tanah Abang.
.    
"Kesemrawutan lalu lintas di kawasan Tanah Abang disebabkan karena jumlah pejalan kaki yang banyak, volume kendaraan yang tinggi, angkutan umum dan ojek ngetem, parkir kendaraan, lalu lalang trolly barang, dan truk bongkar muat yang semuanya itu berada dalam satu level ruang yang sama, dan semuanya berebut tempat dalam ruang yang cukup sempit.

Beberapa usulan yang mungkin dapat dipertimbangkan:

1. Membangun fasilitas pejalan kaki yang cukup lebar dan nyaman di atas jalan, yang menghubungkan secara langsung stasiun kereta api dengan blok-blok gedung perdagangan di Tanah Abang. 

2. Mengubah layanan mikrolet/kopaja/metromini dari pengoperasian secara individual (menyebabkan mereka terpaksa ngetem) menjadi dikelola oleh satu manajemen dengan sistem kontrak (buy the service).

3. Kantor Jasa pengiriman barang (freight forwarder) yang tersebar dimana-mana sebaiknya lokasinya dipusatkan di satu kawasan, lokasi Blok G dan Bongkaran bisa dipertimbangkan, tujuannya agar lalu lintas trolly barang bisa lebih ditata.

4. Para pengojek didorong untuk membentuk asosiasi, nantinya melalui asosiasi ini akan lebih mudah untuk diajak rembukan dalam hal membatasi jumlah ojek, mengatur tempat mangkal, menjaga ketertiban dan sistem antrean.

5. Menjadikan Tanah Abang sebagai satu kawasan khusus dan mengangkat seorang Manajer yang khusus mengurusi Tanah Abang, seperti halnya kawasan kota tua dengan dibentuknya menjadi satu UPT."


Image:Pribadi
Sumber: Bapak Akbar Muhamad, mantan Direktur BLU Transjakarta