Batavia (Jakarta) Banjir Lagi




Hujan deras yang mengguyur Jakarta pada Senin (11/12/2017) yang mencapai puncaknya pada sekitar pukul 14:00 tak ayal membuat sejumlah titik dan kawasan mengalami kebanjiran. 



Jakarta yang sudah macet menjadi bertambah macet karena banjir itu terjadi pada jam-jam sibuk beberapa saat sebelum warga ibukota menyelesaikan aktivitas mereka sehingga kemacetan parah pun terjadi di sejumlah titik pada jam-jam pulang kantor. 


Jakarta memang sudah sangat akrab dengan banjir karena sudah menjadi fenomena yang rutin yang terjadi saban tahunnya terutama pada bulan-bulan dimana curah hujan cukup tinggi seperti yang terjadi pada beberapa hari terakhir.

Biasanya tiga bulan pertama di awal tahun menjadi fase puncak banjir di Jakarta setiap tahunnya yaitu pada Januari, Februari dan Maret. Banjir yang cukup besar dalam rentang dua dekade terakhir yang terjadi pada bulan-bulan dimaksud adalah pada 1996, 2002, 2007, 2013, 2014, dan 2015.  

Sejak Jakarta masih bernama Batavia yaitu saat Indonesia masih berada di masa penjajahan Belanda, banjir yang cukup besar terjadi pada 1621.

Sebagian besar wilayah ibukota yang terletak di bawah permukaan laut menjadi salah satu faktor mengapa banjir rutin terjadi, selain karena faktor-faktor lainnya seperti intensitas curah hujan yang cukup tinggi, buruknya sistem drainase, dan kebiasaan buruk sebagian warga yang membuang sampah sembarangan.

Pada masa kolonial Belanda itu, banjir yang terjadi di Batavia awalnya hanya melanda kawasan-kawasan yang berada dekat dengan kawasan sungai-sungai dan kawasan pantai, tetapi seiring waktu, banjir pun mulai melanda ke bagian sentral Batavia.

Di masa JP Coen berkuasa, Gubernur Jenderal VOC tersebut mencoba membangun kanal-kanal untuk memperlancar aliran sungai-sungai menuju Laut Jawa yang meniru langkah-langkah yang ditempuh oleh pemerintah Belanda di Amsterdam.

Pembangunan kanal-kanal tersebut tidak hanya dimaksudkan untuk memperlancar aliran sungai-sungai di Batavia tetapi juga berfungsi sebagai transportasi air seperti untuk mengangkut barang-barang melalui Kali Angke pada tahun 1647 yang dibangun oleh Johanes Amanus.

Tingginya curah hujan yang terjadi pada 1918 membuat Batavia kembali mengalami kebanjiran yang membuat pemerintah kolonial berdasarkan ide Herman van Breen membagi aliran sungai yang melintasi Batavia, maka pada 1922, pemerintah kolonial membangun Pintu Air Manggarai dan Banjir Kanal Barat.

Sebenarnya pemerintah kolonial juga telah merencanakan pembangunan Banjir Kanal Timur, namun akibat kekurangan dana maka hal itu belum sempat terealisasi. Banjir Kanal Timur sendiri baru bisa diselesaikan pada 2003 lalu yang tetap mengacu pada rencana Herman van Breen. 

Dalam kurun 1911-1938, berbagai upaya lain juga telah ditempuh oleh pemerintah kolonial Belanda untuk menanggulangi masalah banjir di Batavia seperti melakukan pengerukan sungai Ciliwung, Kali Angke, Kali Krukut dan Kali Baru serta beberapa aliran lainnya.


   Image:  
viva.id

   Sumber:  
sejarawanmuda.wordpress.com







       

0 komentar