Di Suatu Senja di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan Srengseng Sawah Jagakarsa

 
Di Suatu Senja di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan Srengseng Sawah Jagakarsa.

Menikmati Bir Pletok di Setu Babakan

Seusai berkunjung ke Condet untuk melihat kebun buah terutama kebun salak yang dimiliki oleh Pemda DKI di Condet Balekambang pada Kamis (28/12/2017), penulis juga mampir di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan Srengseng Sawah Jagakarsa. Adapun tujuan penulis berkunjung ke kebun buah Condet adalah ingin memfoto sendiri kebun itu selain juga karena didorong oleh rasa penasaran alias 'kepo' :)


Kembali ke bahasan ... Saat berada di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan Srengseng Sawah Jagakarsa, penulis menyaksikan kegembiraaan warga menghabiskan waktu sore mereka dengan berbagai aktivitasnya seperti bermain layang-layang, main sepeda, dan duduk-duduk sembari ngobrol-ngobrol di berbagai warung makanan yang ada di lokasi. Suatu pemandangan yang menyenangkan melihat kegembiraan itu dengan adanya ruang publik untuk bersantai ria.

Di Suatu Senja di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan Srengseng Sawah Jagakarsa.
Kegembiraan warga menikmati waktu sore mereka di Setu Babakan


Tak lama setelah itu, waktu Maghrib tiba, maka penulis pun beranjak ke Mesjid Baitul Ma'mur yang megah yang letaknya di sekitar Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan Srengseng Sawah Jagakarsa, yang sekaligus menjadi salah satu ikon wilayah itu.

Seusai Maghrib, penulis memang berencana untuk mampir menikmati bir pletok di salah satu warung atau kafe yang berada di lokasi.

Di Suatu Senja di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan Srengseng Sawah Jagakarsa.
Bir Pletok segar di Warung Bang Ji'ih Setu Babakan

Awalnya penulis datang ke sebuah cafe baru dua lantai yang berdiri megah di moncong  (Gate 2) Setu Babakan yang terletak di Jalan Srengseng Sawah Raya. Seperti diketahui, Setu Babakan memiliki dua gate dimana gate satunya lagi terletak di Jalan Al-Kahfi 2. Sayangnya, bir pletok yang disajikan di cafe yang bernama Warung Bang Vian itu tidak disajikan dalam porsi yang kecil tetapi dalam porsi yang besar saja sehingga penulis pun memutuskan untuk mencarinya di warung lainnya yang berada di dalam Setu Babakan.

Masih banyak muda-mudi alias kids zaman now :) yang bercengkrama di bangku-bangku yang dijejer di pinggir Setu saat penulis memasuki sebuah warung khas Betawi yang bernama Warung Bang Ji'ih dan langsung memesan segelas bir pletok segar.

Warung Bang Ji'ih berdesain sederhana yang dihiasi dengan berbagai ornamen Betawi termasuk foto-foto Djakarta tempo doeloe dari berbagai tahun. Selain itu ada foto seniman legendaris Betawi Benyamin Sueb yang mempertegas bahwa seniman serba-bisa asli Kemayoran itu memang merupakan salah satu putra Betawi yang dibanggakan oleh masyarakat Betawi sebagaimana yang pernah penulis hadirkan juga di blog ini. Tak lupa, berbagai koleksi kaset Benyamin Sueb ikut dihadirkan pula sebagai memorabilia. Singkat kata, Warung Bang Ji'ih memang Betawi banget dah ... :)

Di Suatu Senja di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan Srengseng Sawah Jagakarsa.
Berbagai foto Djakarta tempo doeloe
Di Suatu Senja di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan Srengseng Sawah Jagakarsa.
Berbagai koleksi kaset Bang Ben

Di dalam warung, penulis berbincang-bincang dengan pemilik warung dan pengunjung warung lainnya yang diawali dengan sapaan akrab khas Betawi: "Dari mane, mau kemane?" :)

Banyak hal yang diperbincangkan yang tentu saja topik utamanya soal Betawi dan Setu Babakan. Penulis juga bercerita bahwa hari itu penulis berkunjung ke kebun buah di Condet. Bang Ji'ih menanggapinya dengan harapan agar Setu Babakan tidak akan mengalami nasib yang sama dengan Condet yang sebelumnya memang telah ditetapkan sebagai kawasan Cagar Budaya sebelum dicabut oleh Pemda DKI dan dialihkan ke Setu Babakan.

Dalam perbincangan tersebut, bang Ji'ih menyatakan optimismenya karena sebagian besar lahan di Setu Babakan sudah menjadi milik Pemda DKI karena sekitar 3 atau 4 tahun yang lalu, Pemda DKI masih menyewa sebagian lahan di sana.

Pembelian lahan oleh Pemda DKI itu tentu saja dimaksudkan sebagai upaya 'kasus' Condet tidak berulang kembali. Ya semoga saja demikian, karena keberadaan Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan Srengseng Sawah Jagakarsa itu memberikan warga sekitar sebuah ruang publik murah meriah untuk sejenak melepaskan kepenatan selain juga kental suasana kampungnya.

Waktu pun bergulir cepat dan jam tujuh tepat menjelang Isya, semua warung termasuk Warung Bang Ji'ih harus tutup karena demikianlah aturan yang ditetapkan kecuali warung-warung atau cafe-cafe yang berada di luar Setu Babakan, maka penulis pun pamit kepada bang Ji'ih dan pengunjung lainnya dan segera kembali ke Mesjid Baitul Ma'mur sebelum beranjak pulang. 



images: pribadi




0 komentar