Eksistensi Pasar Tradisional di Tengah Perkembangan Jakarta. Masih Perlukah?




Bahasan pada post kali ini adalah mengenai pasar alasannya karena pasar merupakan instrumen penting ekonomi selaras dengan definisi pasar secara umum yaitu tempat bertemunya para penjual dan pera pembeli untuk bertransaksi.


Meskipun demikian, jenis dan bentuk pasar juga telah berkembang secara dinamis mengikuti perkembangan zaman seperti adanya pasar modal, pasar modern seperti swalayan dan department store.

Tetapi kali ini penulis ingin menggoreskan tulisan soal pasar tradisional sebagai topik bahasan penulis kali ini.

Kenapa penulis memilih untuk menulis soal pasar tradisional?

Well, terdapat sejumlah alasan yaitu:

Pertama, penulis sendiri berasal dari keluarga pedagang tradisional dan tentunya memiliki sedikit pengetahuan dan pengalaman terkait.

Kedua, keberadaan pasar tradisional menurut hemat penulis masih tetap relevan di tengah menjamurnya pertumbuhan pasar-pasar modern di ibu kota. Tetapi tentunya perlu adanya kesadaran dari pihak pengelola, dalam hal ini, untuk provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta melalui  PD. Pasar Jaya serta para pedagang dan para stakeholders  lainnya demi mewujudkan eksistensi pasar tradisional di tengah kecendrungan mutakhir.

Sebab secara psikologis, masyarakat Indonesia adalah tipikal masyarakat yang ramah dan akrab yang senang berinteraksi satu sama lainnya dan itulah kekuatan utama mengapa pasar tradisional masih memiliki peluang untuk tetap bertahan dan eksis.

Mewujudkan pasar tradisional yang nyaman, aman dan bersih serta ramah adalah keharusan. Itulah komitmen yang harus selalu dipegang oleh stakeholders.

Terkait dengan bahasan kali ini, penulis sangat mengapresiasi dan mendukung upaya yang ditempuh pihak PD Pasar Jaya seperti yang penulis kutip dari news.detik.com, yang menunjukkan komitmen keberpihakan bagi para pedagang kecil-menengah di ibukota.

Dalam berita yang dikutip dari sumbernya penulis sertakan di bagian bawah tulisan ini, disebutkan bila PD. Pasar Jaya mengaku fokus pada revitalisasi pasar tradisional di Jakarta. Terdapat 35 pasar yang akan diselesaikan hingga awal 2018.

"Pada awal 2018 ada sedikitnya 13 pasar yang akan segera dirampungkan revitalisasi. Sehingga total ada 35 pasar bersubsidi rampung," kata Dirut PD Pasar Jaya Arief Nasrudin usai meresmikan Pasar Enjo di Jalan Pisangan Lama, Jakarta Timur, Rabu (27/9/2017).

Arief mengatakan PD Pasar Jaya menjalin kerja sama dengan perbankan untuk memudahkan pedagang mengakses permodalan. Dia menyebut kerja sama tersebut dapat membuat geliat ekonomi di pasar tradisional akan semakin maju.

PD Pasar Jaya mengaku fokus pada revitalisasi pasar tradisional di Jakarta. Terdapat 35 pasar yang akan diselesaikan hingga awal 2018.

"Pada awal 2018 ada sedikitnya 13 pasar yang akan segera dirampungkan revitalisasi. Sehingga total ada 35 pasar bersubsidi rampung," kata Dirut PD Pasar Jaya Arief Nasrudin usai meresmikan Pasar Enjo di Jalan Pisangan Lama, Jakarta Timur, Rabu (27/9/2017).

Arief mengatakan PD Pasar Jaya menjalin kerja sama dengan perbankan untuk memudahkan pedagang mengakses permodalan. Dia menyebut kerja sama tersebut dapat membuat geliat ekonomi di pasar tradisional akan semakin maju.

"Kita programnya sudah banyak. Tadi barusan dengan BRI aja itu kan salah satu permodalan untuk usaha kecil menengah. Jadi dengan Bank DKI, Bank BRI, kita juga bekerja sama dengan bank lainnya juga untuk kemudian bisa membuat pedagang lebih baik lagi nanti dalam permodalan juga," pungkasnya.

Arief mengatakan saat ini tengah fokus menyelesaikan revitalisasi 16 pasar tradisional hingga akhir tahun 2017. Ia berharap pembangunan pasar dapat mendorong pertumbuhan ekonomi warga.

"Pembangunan pasar rakyat ini untuk menopang perekonomian pedagang kecil dan menengah, mereka tidak terbebani dengan biaya pembangunan. Sehingga harapan kita pasar bisa ramai dan diminati konsumen," sebutnya.

Image:
faktapers.com

Sumber:
news.detik.com


0 komentar