Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Maret 2018

Ini Dia 12 Tempat Destinasi di Jakarta Utara yang wajib di kunjungi

Logo 12 Jalur Destinasi




1. Taman Suaka Margasatwa Muara Angke

Siapa sangka di Jakarta Utara ada hutan, meskipun bukan hutan sungguhan, tapi ternyata Muara Angke menjadi satu-satunya lokasi di Jakarta yang memiliki hutan. Meskipun Muara Angke merupakan kawasan yang terletak di pesisir Teluk Jakarta  yang kondisi cuacanya senantiasa panas belum lagi dihimpit oleh  perumahan mewah Pantai Indah Kapuk dan Pluit. Namun kini Hutan Muara Angke menjadi hijau dan hidup pula di dalamnya berbagai margasatwa pesisir, menjadikan Taman Suaka Margasatwa Muara Angke  salah satu tujuan wisata pesisir di Jakarta Utara  yang jarang bahkan tidak ditemui oleh  wisatawan di Jakarta saat ini.

Sambil berjalan di atas   jembatan dari kayu ( board walk ) yang panjangnya sekitar 843 meter  dengan ketinggian kira-kira 20 meter dari permukaan tanah, kita bisa mengitari hamparan hutan bakau sambil melihat-lihat pemandangan yang sangat indah dan  menyejukan. Belum lagi pemandangan yang jarang kita temui di Jakarta yaitu satwa liar seperti monyet - monyet yang bermain bebas berkeliaran di salah satu spotnya serta burung - burung pantai yang jumlahnya diperkirakan 74 jenis yang terbang kian kemari dari satu pohon ke pohon yang lainnya semua itu menambah indah pemandangan di Taman Suaka Margasatwa Muara Angke ini.


Sebagaimana layaknya hutan bakau ( pantai ) di kawasan ini juga ada ular sanca ( piton ), biawak, ular cobra, dan kera ekor panjang. Puas  jalan-jalan berkeliling hutan,kita bisa  mengarungi Sungai Muara Angke sekaligus menuju Pulau Burung yang berada tidak jauh dari Hutan Angke.





2. Sentra Perikanan Muara Angke

PUJASERI adalah tempat atau lokasi Pusat Jajan Serba Ikan  yang terdapat di Muara Angke, pada hari libur atau hari - hari biasa dikunjungi oleh penikmat seafood ( makanan hasil laut ), karena Muara Angke merupakan salah satu Pusat Pemasaran Ikan yang ada di Jakarta Utara selain Muara Baru dan Pasar Ikan.Kita dapat menikmati berbagai makanan hasil laut langsung dari nelayan, tentunya dengan harga yang relatif murah.



3. Kawasan Sunda Kelapa
Pelabuhan Sunda Kelapa merupakan salah satu tujuan wisata pesisir. Di Pelabuhan inilah pertama kalinya nPasukan Pangeran Jayakarta mendarat , lokasinya  tidak jauh dari kawasan wisata Kota Tua. Sebagaimana layaknya Pelabuhan,pemandangan kapal-kapal kayu (Pinisi) yang berlabuh di  dermaga Pelabuhan  menjadi pemandangan tersendiri, tampak indah memang. Meskipun cuaca di Pelabuhan Sunda Kelapa ini cukup panas, setiap harinyanya banyak para juru foto yang mengabadikan moment tertentu di lokasi wisata ini.  




 






4. Masjid Luar Batang

Masjid Luar Batang adalah obyek wisata pesisir dalam bentuk religi. masjid ini berada di belakang Gedung Museum Bahari.Masjid ini didirikan oleh  Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus yang wafat pada masa penjajahan Belanda dan Beliu dimakamkan di Masjid Luar Batang ini, sehingga sampai saat ini Masjid Luar Batang tidak pernah sepi dari para penziarah.Terlebih lagi pada Malam Jum'at atau Malam - Malam tertentu para penziarah tidak saja berasal dari Jakarta , tetapi dari luar Jakarta pun datang berziarah ke Makam Sang Habib bahkan dari mancanegara.
 
5. Sentra Belanja Mangga Dua

Pusat  Perbelanjaan grosir Mangga Dua  pada mulanya dikenal dengan nama Pasar Pagi Mangga Dua. Pasar Pagi Mangga Dua ini sudah dikenal sejak tahun 1741. Seiring perkembangan zaman Pusat Grosir Mangga Dua ini menjadi terkenal hingga Mancanegara. Karena biasanya para wisatawan yang berkunjung ke tempat - tempat wisata di Jakarta Utara tidak akan melewat untuk mampir di Mangga Dua ini untuk berburu berbagai macam kebutuhan seperti baju , tas, sepatu bahkan elektronik   yang asli branded sampai dengan yang biasa - biasa saja dengan harga yang relatif murah dan bisa melakukan tawar menawar pula. Wajar saja Kalau Pusat Grosir Mangga Dua ini menjadi salah satu tujuan wisata belanja dari 12 destinasi wisata pesisir Jakarta Utara.

6. Taman Impian Jaya Ancol

Taman Impian Jaya Ancol merupakan lokasi wisata kebanggaan Jakarta Utara. Karena di lokasi wisata ini banyak sekali taman -taman hiburan yang mampuh memuaskan para wisatawan, seperti Dunia Fantasi yang di dalamnya banyak terdapat arena bermain  yang mampuh memacu adrenalin serta panggung - panggung hiburan yang dimeriahkan oleh artis - artis Ibukota juga pertunjukan spektakuler yang bahkan didatangkan dari luar negri yang semua itu adalah untuk memberikan kepuasan para pengunjung.Di Taman Impian Jaya Ancol juga ada wisata pantai dan pertnjukan film 4 dimensi serta wahana bermain es . Belum lagi pertunjukan hewan laut yang pandai seperti lumba-lumba dan kita juga disuguhkan dengan berbagai macam jenis biota laut dalam aquarium raksasa di Sea Word.Itu semua menjadikan Taman Impian Jaya Ancol sebagai andalan destinasi di Jakarta Utara.

7. Bahtera Jaya Ancol
Bahtera Jaya Ancol letaknya tidak jauh dari Taman Impian Jaya Ancol , lebih ke arah Timur. Lokasi ini selain sebagai tempat atau Pusat Pembinaan Olahraga Air juga sebagai tempat wisata pantai. Bahtera Jaya Ancol yang dikenal dengan nama Gelanggang Olahraga Bahtera Jaya Ancol ini menjadi tempat rekreasi pantai untuk umum yang murah.

8. Stasiun Tanjung Priok

Stasiun Tanjung Priok merupakan stasiun tertua yang letaknya berseberangan dengan Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Bangunan tua ini  memiliki bentuk bangunan yang hampir mirip dengan bangunan - bangunan yang ada di kota tua. Stasiun Tanjung Priok selain sebagai salah satu dari 12 destinasi wisata pesisir Jakarta Utara juga menjadi salah satu cagar budaya DKI Jakarta. Stasiun Tanjung Priok adalah stasiun termegah di Asia Tenggara pada masanya, stasiun ini memiliki sejarah dalam roda perekonomian Batavia.

Wajar bila Stasiun Tanjung Priok merupakan bagian dari  sejarah Batavia, karena di dalam bangunan tua ini terdapat terowongan rahasia yang konon menembus kebeberapa arah yang pada jaman penjajahan digunakan sebagai  akses jalan rahasia yang konon tembus sampai ke Sunda Kelapa , Stasiun Kota bahkan Istana Negara dan beberapa pulau kecil di Teluk Jakarta.Misteri terowongan bawah tanah di Stasiun Tanjung Priok ini masih menjadi misteri dan belum terpecahkan sampai saat ini. Di Stasiun Tanjung Priok ini juga terdapat losmen - losmen di lantai atasnya sebagai tempat menginap para penumpang pada masa lalu . Kini Losmen - losmen itu tidak lagi berfungsi.

9. Jakarta Islamic Centre

Jakarta Islamic Center yang berdiri diatas lahan bekas lokalisasi terbesar di Jakarta yang dikenal dengan sebutan Kramat Tunggak merupakan   tempat pengkajian dan pengembangan Islam di Jakarta. Jakarta Islamic Center terletak di Jl Kramat Jaya, Tugu Utara, Koja ini adalah bangunan Masjid besar yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas . Jakarta Islamic Center merupakan jalur wisata religi selain Masjid Luar Batang dan Masjid Al-Alam Marunda.

10. Kampung Tugu

Kampung Tugu yang berada di Kecamatan Koja, Jakarta Utara ini di dalamnya terdapat Gereja Portugis tertua di Jakarta. Kampung ini  diperuntukan bagi bekas Mardijkers atau tentara Portugis yang sudah dibebaskan dari tawanan perang. Hingga saat ini keberadaan Kampung Tugu yang dihuni sebagian besar keturunan Portugis tetap dipertahankan sebagai lokasi tujuan wisata di Jakarta Utara. Untuk menarik para wisatawan di Kampung Tugu ini masih bertahan kesenian musik tradisional Portugis yaitu Keroncong Tugu yang sudah dikenal hingga mancanegara.

11. Kampung Marunda

Kampung Marunda identik dengan Masjid Al-Alam Marunda yang konon Masjid ini didirikan dalam waktu satu malam. Masjid Al -Alam Marunda ini merupakan lokasi wisata religi yang terdapat di ujung bagian Timur Kota Jakarta Utara. Tidak jauh berbeda dengan Masjid Luar Batang, Masjid Al-Alam Marunda ini juga kerap dikunjungi para penziarah, baik domestik maupun mancanegara.


Tidak Jauh dari Masjid Al-Alam Marunda terdapat peninggalan  bersejarah yaitu Rumah si Pitung.
Si Pitung adalah tokoh legenda Jakarta yang juga merupakan tokoh yang menentang penjajah Belanda pada jamannya. Tidak berlebihan jika Si Pitung di jadikan icon dari 12 Destinasi Wisata Pesisir Jakarta Utara.

12. Sentra Belanja Kelapa Gading
Selain Pusat Grosir Mangga Dua, di Jakarta Utara terdapat juga kawasan belanja Kelapa Gading yang terkenal dengan berbagai macam kulinner selain wisata belanja. Pusat Kulinner Kelapa Gading akan sangat terlihat ramai dan banyak dikunjungi pada saat Ramadhan, karena berbagai jenis makanan berbuka akan tersedia disini.

Jadi jangan salah sangka, kalau Jakarta Utara itu bukan semata-mata  lokasi atau wilayah yang panas dan gersang, ternyata masih banyak tempat yang perlu dikunjungi untuk membuktikan bahwa Jakarta Utara juga memiliki tempat - tempat wisata yang indah dan bersejarah.

Selamat Datang di jakarta Utara. Jangan lupa kunjungi 12 Destinasi Jalur Wisata Pesisir jakarta Utara.

Minggu, 07 Januari 2018

Potensi Bisnis Kuliner Tradisional di Jakarta dan Sekitarnya

 
Potensi Bisnis Kuliner Tradisional di Jakarta
Aneka menu kuliner khas Indonesia

 

Potensi Bisnis Kuliner Tradisional di Jakarta dan Sekitarnya Masih Menjanjikan 

 

Bisnis kuliner tradisional di Jakarta dan sekitarnya merupakan salah satu peluang bisnis potensial yang bisa dipertimbangkan oleh mereka yang berkeinginan membuka bisnis.

Warga Jakarta yang multikultur dan suku merupakan salah satu alasan mengapa peluang bisnis kuliner tradisional ini menjanjikan.

Post kali ini menghadirkan tema bisnis sebagai sekuel dari post sebelumnya yang bisa dibaca di sini yang tentu saja menurut perkiraan penulis dalam melihat fenomena dan kecendrungan yang ada di ibukota dan sekitarnya tentang bahasan terkait.

Adapun tujuan lain dari post kali ini adalah untuk ikut serta mengkampanyekan kuliner tradisional di tengah berbagai kuliner asing yang ada sebagai salah satu wujud kecintaan kepada tanah air.

Indonesia yang terdiri berbagai suku sangat kaya akan budaya, salah satunya di bidang kuliner yang merupakan produk budaya sebagaimana bahasa sehingga membuat kita semakin bangga sebagai warga negara Indonesia.

Selain berbagai menu kuliner tradisional yang telah banyak dikenal secara luas dan mengglobal seperti rendang, rawon, pempek, soto, sate, nasi uduk dan lain-lain, sebenarnya masih banyak berbagai pilihan menu kuliner lainnya dari setiap suku yang ada yang belum dikenal secara luas tetapi sebenarnya memiliki potensi untuk disukai dan mendatangkan keuntungan material.

Karena walaupun termasuk sebagai kota metropolitan, tipikal dan karakter lidah warga Jakarta dan sekitarnya masih banyak yang menyukai aneka menu kuliner tradisional yang khas. Salah satu contohnya adalah Sop Buntut di Hotel Borobudur yang selalu digandrungi.

Fenomena maraknya pertumbuhan berbagai warung, cafe maupun resto di sejumlah wilayah ibukota akhir-akhir ini yang menyajikan aneka kuliner tradisional merupakan hal yang menggembirakan seperti yang sebagiannya pernah pula dihadirkan dalam blog ini.

Para pengusaha kuliner tersebut dengan jeli melihat peluang ini, namun demikian peluang ini masih tetap terbuka karena umumnya berbagai warung, cafe dan resto tersebut masih banyak yang belum menyajikan aneka kuliner lainnya yang belum dikenal luas dan cenderung mulai langka.

Mengambil salah satu contoh, suku Betawi sendiri memiliki berbagai menu kuliner yang belum dikenal secara luas dan mulai langka seperti Sayur Babanci, Kue Rangi, Kerupuk Mie Kuning dan sebagainya.

Bila menu-menu tersebut dihadirkan dengan kemasan yang menarik dan disajikan dengan baik serta dipublikasikan dengan baik maka menjadi potensi yang cukup besar untuk meraih keuntungan.




image:  cara-erni.com
     

Sabtu, 06 Januari 2018

Salah Satu Bisnis Paling Potensial di Jakarta dan Sekitarnya

 
Salah Satu Bisnis Potensial di Jakarta dan Sekitarnya
Salah satu teman penulis yang membuka usahanya di Pengumben Kebon Jeruk Jakarta Barat

 

Bisnis Motor dan yang Terkait Dengannya: Bisnis-bisnis Potensial di Jakarta dan Sekitarnya

Setelah mengulas sedikit soal bisnis berbasis teknologi informasi yang berguguran dalam satu dekade terakhir di ibukota dan sekitarnya sebagaimana yang bisa dibaca di sini, kini penulis menghadirkan salah satu bisnis potensial yaitu bisnis motor dan yang terkait dengannya.

 

Kebijakan pemerintah untuk mempermudah kredit pemilikan motor pada sekitar satu dekade lalu tak ayal membuat pertumbuhan jumlah kuda besi sangat pesat di ibukota dan sekitarnya.

Hal ini bisa kita lihat dengan jumlah angka digit terakhir di plat-plat motor yang sekarang sudah berjumlah 3 digit selain tentu saja jumlah motor yang lalu-lalang di jalan-jalan ibukota dan sekitarnya.

Kebijakan ini juga telah berimbas positif bagi pelaku bisnis yang berhubungan dengan motor seperti dealer, bengkel, spare parts, helm, jaket, sarung tangan dan banyak lagi hingga aksesorisnya yang menjadi derivatif ceruk bisnis ini. Demikian juga dengan bisnis online seperti portal otomotif dan sebagainya.

Para pelaku bisnis hulu bisnis ini mencakup pabrikan, dealer, spare parts, industri oli hingga para pemilik industri bisnis terkait lainnya yang semakin memiliki peluang lebih besar untuk meraih keuntungan.

Sedangkan para pelaku bisnis hilir bisnis ini adalah para pedagang seperti pedagang spare parts, helm, jaket hingga berbagai aksesoris, mulai dari box hingga sticker yang jumlahnya semakin banyak yang menjadi bahasan utama post kali ini.

Para pedagang ini tidak saja menggelar dagangan mereka di tempat-tempat permanen, tetapi juga kaki lima hingga 'ngendon'   sementara alias mobile, contohnya bisa dilihat di wilayah Pondok Cabe Tangerang Selatan, Ragunan dan beberapa wilayah lainnya.

Disamping itu, perkembangan jumlah motor ini juga membuat banyak pedagang bensin eceran memiliki peluang menenggak untung dengan adanya Pertamini yang kini tersebar hampir di setiap pinggir jalan di seantero ibukota dan sekitarnya.

Kehadiran berbagai klub motor yang dibentuk oleh para pengendara sesuai dengan merek motor dan sebagainya juga telah membuat potensi bisnis ini tetap cerah untuk waktu yang lebih lama lagi.

Jadi menurut penulis, bila kini para pembaca ingin membuka bisnis, maka bisnis yang terkait dengan motor seperti contoh-contoh yang disebutkan di atas bisa dipertimbangkan selain bisnis kuliner, pendidikan dan lain-lainnya.



Image: Pribadi

Jumat, 05 Januari 2018

Bisnis Wartel & Warnet yang Tergerus Perkembangan Zaman

Ketika Bisnis Wartel & Warnet Berjaya di Jakarta dan Sekitarnya
Wartel dan Warnet yang tergerus oleh perkembangan zaman 

 

Gurih dan Rentannya Bisnis Berbasis Teknologi Informasi


Bisnis berbasis teknologi merupakan bisnis yang menguntungkan hanya saja, seperti semua jenis bisnis yang tak bebas dari resiko, para pelaku bisnis berbasis teknologi harus siap juga dengan segala resikonya.

Perkembangan teknologi, khususnya teknologi informasi tidak saja berpengaruh terhadap prilaku manusia dalam berkomunikasi dan berinteraksi, tetapi juga memberikan pengaruh kepada mereka yang menjalankan bisnis berbasis teknologi informasi.

Post kali ini membahas sekilas tentang pesatnya perkembangan bisnis berbasis teknologi dan imbasnya terhadap bisnis terkait khususnya di Jakarta dan sekitarnya dalam dua dasawarsa terakhir.

Adapun contoh-contoh bisnis berbasis teknologi informasi yang dimaksud adalah yang akrab di masyarakat sesehari seperti warung telepon (wartel), warung internet (warnet) dan bisnis jual-beli seluler bekas (used).

Untuk contoh yang terakhir, barangkali para pelaku bisnis ini masih bisa bernafas lega dengan adanya kartu seluler dan pulsa/kuota internet serta beberapa jenis asesoris terkait lainnya. Namun tidak demikian dengan dua contoh yang pertama yang secara perlahan langsung berguguran terimbas perkembangan teknologi informasi.

Bisnis wartel pernah berjaya pada 1990-an di tanah air, demikian juga di Jakarta dan sekitarnya terutama di paruh terakhir saat Indonesia diterpa krisis moneter parah. Apalagi saat itu diberlakukan sistem rayon pada beberapa area di Jakarta sehingga di dalam kota pun kita harus membayar biaya percakapan jarak jauh atau interlokal.

Namun memasuki milenium baru, beberapa operator mengeluarkan produk seluler CDMA dimana tarifnya tidak semahal bila kita menggunakan kartu sim lainnya. Hal ini membuat bisnis wartel berguguran alias gulung tikar satu persatu hingga saat ini rasanya sudah tak ada lagi masyarakat di Jakarta dan sekitarnya yang menjalankan bisnis wartel.

Memasuki medio dekade 2000-an, muncul dan tumbuh subur pula bisnis warnet hingga mampu berjaya kurang lebih satu dekade. Namun seiring munculnya seluler android, maka satu per satu pengusaha warnet bertumbangan walau masih ada juga yang masih bisa bertahan (survive) dengan mengandalkan pelanggan dari kalangan anak-anak dan remaja untuk games online.

Sedangkan untuk contoh ketiga yang disebutkan di atas, kounter-kounter seluler masih banyak dan cenderung menjadi salah satu bisnis primadona di beberapa kawasan ibukota meskipun untuk bisnis jual beli seluler bekas tidak seramai satu dekade sebelumnya karena secara umum, harga seluler yang baru tidak semahal dahulu sehingga masyarakat lebih memilih untuk membeli seluler yang baru.

Bagaimana menurut Anda?          




image: 2.bp.blogspot.com

Kamis, 04 Januari 2018

Melihat Geliat Usaha Permak Pakaian di Pisangan Jatinegara Jakarta Timur

Melihat Geliat Usaha Permak Pakaian di Pisangan Jatinegara Jakarta Timur
Usaha Permak Pakaian

Tempat Usaha Permak Pakaian di Pisangan Terlalu Beresiko

Seringkali setiap membeli pakaian terutama celana panjang berbahan jeans, kita merasa kurang sreg  dengan ukuran panjangnya sehingga kita perlu jasa tukang jahit untuk memperbaikinya. Begitu juga ketika tiba-tiba kancing atau ritsleting (lebih sering ditulis resleting) atau zipper  celana atau jaket kita mengalami kerusakan.

Bila penulis mengalami hal-hal seperti itu, penulis sering merasa kesal, apalagi saat itu ingin sekali memakai pakaian tersebut. Menjadi bertambah kesal apabila ketika penulis meminta jasa tukang jahit untuk memperbaikinya, seringkali ditolak. Tetapi untunglah kini banyak ditemui jasa permak pakaian untuk mengatasi permasalahan demikian.

Jasa permak pakaian dalam beberapa tahun ini sepertinya selalu stabil bahkan cenderung mengalami peningkatan terutama yang langsung menerapkan 'sistem jemput bola'  alias mobile. Para penggiat jasa ini cukup jeli melihat ceruk pasar (market niche)  usaha mereka.  

Jasa permak pakaian ini sering kita temui di berbagai sudut ibukota, baik yang mobile  maupun yang ngendon  atau berdiam di suatu tempat permanen seperti yang bisa kita lihat di beberapa titik di Kawasan Jagakarsa dan Margonda Depok.

Umumnya mereka-mereka ini memiliki tempat yang lebih nyaman dibandingkan dengan rekan-rekan mereka yang membuka usaha mereka di bawah kolong jembatan seperti terlihat di wilayah Pisangan, Jatinegara Jakarta Timur.

Dalam post kali ini, penulis hendak memfokuskan pada pembahasan sekilas tentang keberadaan para penggiat jasa permak pakaian ini terutama yang membuka jasa mereka di tempat-tempat yang rawan seperti di kolong jembatan di Pisangan Jatinegara yang tak jauh dari Stasiun Jatinegara dan Pasar Rawabening itu.

Adapun tujuan penulis menghadirkan bahasan ini adalah dengan harapan, siapa tahu, ada pembaca yang bisa mengabarkan kepada pengambil kebijakan agar bisa menemukan tempat-tempat yang kondusif dan lebih aman yang tentunya dengan harga yang rasional.

Alasannya, penulis melihat keberadaan mereka di bawah kolong jembatan itu sangat beresiko bagi keselamatan, bukan saja bagi keselamatan mereka para penggiat usaha ini, tetapi juga keselamatan para pelanggan mereka dan keselamatan para pengendara yang melintasi area dimana para penggiat jasa itu membuka saja mereka.

Demikian yang terpikirkan oleh penulis ketika melewati area itu pada akhir Desember lalu saat penulis hendak menuju ke Rawamangun dimana penulis iseng untuk sengaja mencoba melewati jalur yang tak lazim :)

Penulis tentu saja tidak memiliki rasa antipati kepada para penggiat usaha ini, melainkan sangat respek dan bersimpati karena mereka sangat kreatif dan mandiri. Mereka jelas tidak melakukan kriminalitas, hanya saja karena keterbatasan modal yang mereka miliki membuat mereka harus membuka usaha mereka di tempat yang beresiko tersebut.

Namun demikian, sebagaimana para pedagang kaki lima yang mesti tertata dengan baik demi penciptaan ketertiban dan keindahan lingkungan serta alasan resiko seperti disebutkan di atas maka sudah selayaknya agar Pemda DKI mencarikan solusi terhadap permasalahan ini.      



image: 2.bp.blogspot.com


  

Senin, 01 Januari 2018

Malam Pergantian Tahun Sebagai Siklus Berulang Saja Atau Memang Merupakan Sebuah Momentum Spesial?

Malam Pergantian Tahun itu Sebagai Siklus Biasa atau Memang sebagai Sesuatu yang Spesial?
Kalender 2018

Benarkah Tahun Baru Sebagai Sebuah Harapan Baru?

 

Seperti halnya yang terjadi di berbagai tempat di belahan dunia lainnya, sebagian warga Jakarta pun tak luput dari antusiasme menyambut malam pergantian tahun yang tahun ini dipusatkan di Monas dan Ancol.

Sungguh pun demikian, antusiasme sebagian warga Jakarta tidak hanya terpusat di Monas yang terletak di jantung ibukota maupun di Ancol yang terletak di Jakarta Utara itu, tetapi juga di berbagai kawasan lainnya seperti di Kawasan Jagakarsa Jakarta Selatan seperti di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan.

Untuk lokasi yang disebut terakhir, sejak Minggu (31/12/2017) sore atmosfir itu sudah tercipta dengan kehadiran sebagian warga yang memanfaatkan momentum tersebut dengan berjualan 'kebutuhan' yang biasa dikonsumsi warga sebagai pelengkap menyambut pergantian tahun itu seperti jagung mentah, ayam potong dan ikan segar yang semuanya biasanya akan dijadikan sebagai santapan bakar (barbeque)  yang entah sejak kapan menjadi tradisi tahunan dikala menyambut malam pergantian tahun.

Untuk keperluan menyambut tahun baru itu pula, sebagian warga bahkan sejak jauh-jauh hari telah menyiapkan segala sesuatunya seperti mengagendakan acara malam itu ke suatu tempat, biasanya ke luar kota atau bahkan ke luar negeri. Ada juga yang menuliskan resolusi segala. Ya sah-sah saja selama hal itu tidak merugikan orang lain :)

Bicara soal malam pergantian tahun, tentunya akan menimbulkan perbedaan pandangan, salah satunya dalam soal apakah malam pergantian tahun itu merupakan sebuah siklus berulang alias selalu demikian saban tahunnya atau memang merupakan suatu hal yang spesial.

Berbeda dengan sebuah perusahaan atau unit pemerintahan seperti negara, provinsi, kabupaten dan sebagainya, tahun baru bisa dimaknai sebagai perubahan anggaran maka dengan bergantinya tahun, berarti memulai lagi dari awal, bisa jadi juga kepada kebijakannya, apalagi bila di suatu unit pemeritahan tersebut terjadi pergantian rezim.

Sedangkan pada sebuah unit usaha atau perusahaan, pergantian tahun dimaknai sebagai awal membuka buku baru, termasuk dengan target-target yang hendak dicapai. Jadi bila target yang telah ditetapkan pada awal tahun sebelumnya ternyata meleset, maka diharapkan hal itu tidak terjadi lagi di tahun baru, tentunya setelah mengevaluasi kinerja secara komprehensif.

Begitu juga dengan sebuah tim seperti tim peserta MotoGP World Championship  dimana sebagian tim melakukan perubahan seperti pergantian spec  motor, pebalap, mekanik dan sebagainya yang tentunya memberikan suasana baru. Untuk hal ini, mungkin sama dengan apa yang dirasakan oleh para pelajar yang memasuki tahun akademik/ajaran/term baru.

Lalu kalau berbeda dari contoh-contoh seperti ditulis di atas, maka menurut hemat penulis, malam pergantian tahun hanyalah sebuah siklus berulang saja atau hanya sekedar bergantinya angka tahun.

Terus, ada juga yang mengatakan tahun baru sebagai harapan baru. Well ... Kalau memang ada benih yang ditanam sebelumnya, bolehlah kita berpengharapan. Tetapi kalau tidak? We reap what we sow, don't we?  Karena memang begitulah hukumnya, karena tidak ada yang tiba-tiba muncul dengan sendirinya :)

Jadi, apakah malam pergantian tahun itu sebagai siklus berulang saja atau memang suatu hal yang spesial? Para pembaca tentu memiliki pandangan, argumen dan jawabannya sendiri ...




image: kifederationofgreatbritain.co.uk



Sabtu, 30 Desember 2017

Fenomena Maraknya Penamaan Berbagai Menu dengan Kata-kata Seram di Jakarta & Sekitarnya

Fenomena Maraknya Penamaan Berbagai Menu dengan Kata-kata Seram di Jakarta & Sekitarnya

Fenomena Maraknya Penamaan Berbagai Menu dengan Kata-kata Seram di Jakarta & Sekitarnya: Sebuah Opini Pribadi  

 

Fenomena maraknya penamaan menu-menu seram sejak beberapa tahun terakhir banyak dijumpai di berbagai warung, resto, cafe dan tempat-tempat kuliner lainnya yang tersebar di seantero Jakarta dan sekitarnya.

Tulisan pada post kali ini hanya penulis maksudkan untuk mengulas sedikit tentang fenomena yang mungkin baru muncul sejak satu dekade terakhir ini di Jakarta dan sekitarnya.

Selain itu, penulis juga hendak menyampaikan pandangan penulis sendiri terkait dengan fenomena ini tanpa bermaksud menunjukkan sikap antipati kepada para pengusaha kuliner dimaksud.

Penulis pun yakin para pembaca sekalian pernah pula untuk menyantap berbagai makanan yang dinamai dengan kata-kata seram tersebut seperti Sambal Iblis, Soto Setan Jahanam dan lain sebagainya.
 
Barangkali itu merupakan bagian dari kreativitas para pengusaha kuliner untuk menarik perhatian agar dagangan mereka laku, disamping untuk terlihat unik yang ujung-ujungnya sama yang tak lain dan tak bukan adalah untuk mencuri perhatian agar dagangan mereka laku. Istilah kerennya mungkin, ini soal branding  bung!

Penulis sendiri belum mengetahui secara persis darimana dan sejak kapan fenomena ini mulai menggejala, apakah ia bermula dari Jakarta atau dari wilayah lainnya di tanah air.

Bagi sebagian orang, fenomena ini merupakan hal yang sah-sah saja, namun bagi sebagian orang lainnya, termasuk penulis tidak sepakat dengan fenomena pemberian nama-nama dimaksud pada menu-menu makanan dan minuman yang kita santap dan minum.   .

Alasannya? Karena makanan dan minuman yang kita nikmati itu merupakan karunia dari Sang Pencipta sehingga tak elok rasanya bila makanan-makanan dan minuman-minuman tersebut dinamai dengan kata-kata seram seperti yang kini marak itu.

Bagaimana dengan Anda?


image: smhcomau

Kamis, 28 Desember 2017

Kesemrawutan Pasar Tanah Abang

Kesemrawutan Pasar Tanah Abang


Mengurai Kesemrawutan Lalu Lintas di Sekitar Pasar Tanah Abang

 

Oleh: Akbar Muhamad


Seperti halnya lokasi-lokasi pasar pada umumnya, beberapa titik di Tanah Abang pada Rabu (27/12/2017) belum juga lepas dari yang namanya kemacetan, walaupun kondisinya merayap lancar. Inilah barangkali salah satu yang harus dicarikan solusinya.

Post kali ini mencoba mengindentifikasi beberapa penyebab kesemrawutan lalu lintas di sekitar Pasar Tanah Abang yang merupakan opini dari bapak Akbar Muhamad yang disampaikannya di facebook penulis ketika penulis mempostkan kesan penulis ketika berkunjung ke Pasar Tanah Abang pada Rabu.

Bapak Akbar Muhamad ini sendiri adalah seorang mantan pejabat di  Kementrian Perhubungan Republik Indonesia, Dinas Perhubungan Pemprov DKI dan juga mantan Direktur BLU Transjakarta. Jadi beliau sangat berkompeten untuk membahas permasalahan ini.

Berikut ulasan beliau dalam mengurai faktor-faktor penyebab kesemrawutan lalu lintas di sekitar Pasar Tanah Abang selain menyampaikan beberapa usulan yang mungkin dapat menjadi bahan pertimbangan sebagai upaya menemukan solusi mengatasi kesemrawutan lalu lintas di sekitar Pasar Tanah Abang.
.    
"Kesemrawutan lalu lintas di kawasan Tanah Abang disebabkan karena jumlah pejalan kaki yang banyak, volume kendaraan yang tinggi, angkutan umum dan ojek ngetem, parkir kendaraan, lalu lalang trolly barang, dan truk bongkar muat yang semuanya itu berada dalam satu level ruang yang sama, dan semuanya berebut tempat dalam ruang yang cukup sempit.

Beberapa usulan yang mungkin dapat dipertimbangkan:

1. Membangun fasilitas pejalan kaki yang cukup lebar dan nyaman di atas jalan, yang menghubungkan secara langsung stasiun kereta api dengan blok-blok gedung perdagangan di Tanah Abang. 

2. Mengubah layanan mikrolet/kopaja/metromini dari pengoperasian secara individual (menyebabkan mereka terpaksa ngetem) menjadi dikelola oleh satu manajemen dengan sistem kontrak (buy the service).

3. Kantor Jasa pengiriman barang (freight forwarder) yang tersebar dimana-mana sebaiknya lokasinya dipusatkan di satu kawasan, lokasi Blok G dan Bongkaran bisa dipertimbangkan, tujuannya agar lalu lintas trolly barang bisa lebih ditata.

4. Para pengojek didorong untuk membentuk asosiasi, nantinya melalui asosiasi ini akan lebih mudah untuk diajak rembukan dalam hal membatasi jumlah ojek, mengatur tempat mangkal, menjaga ketertiban dan sistem antrean.

5. Menjadikan Tanah Abang sebagai satu kawasan khusus dan mengangkat seorang Manajer yang khusus mengurusi Tanah Abang, seperti halnya kawasan kota tua dengan dibentuknya menjadi satu UPT."


Image:Pribadi
Sumber: Bapak Akbar Muhamad, mantan Direktur BLU Transjakarta

Kamis, 21 Desember 2017

Daerah-daerah Rawan Banjir di Jakarta

 
Daerah-daerah Rawan Banjir di Jakarta

 

Daerah-daerah Rawan Banjir di Jakarta

 

Daerah-daerah rawan banjir di ibukota perlu diketahui agar masyarakat dan pihak pemerintah di sekitar bisa melakukan berbagai upaya pencegahan dan penanganannya.

Menurut  Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), curah hujan yang cukup tinggi diperkirakan masih akan terjadi di wilayah DKI Jakarta dan sejumlah wilayah lainnya di Indonesia pada Desember 2017 hingga Februari 2018 ini.

Sama-sama telah diketahui, pada Senin (11/12/2017) lalu, sejumlah titik di wilayah Jakarta mengalami banjir seperti di yang terjadi di Jalan Rasuna Said Kuningan, Kolong Dukuh Bawah, di depan Mall Gandaria City dan lain-lainnya menyusul hujan lebat yang mengguyur ibukota pada hari itu.

Berikut daerah-daerah yang mengalami banjir pada Senin (11/12/2017) lalu tersebut di Jakarta sehingga daerah-daerah tersebut dikategorikan sebagai daerah-daerah rawan banjir pada periode Desember 2017 hingga Februari 2018 ini. Masyarakat termasuk aparat pemerintah di wilayah-wilayah itu diharapkan bisa melakukan berbagai upaya pencegahan dan penanganannya.

Jakarta Selatan
- Jalan Adityawarman, Blok M, Jakarta Selatan
- Jalan Kemang Utara IX Duren Tiga, Jakarta Selatan
- Komplek Menteri, di Jalan Denpasar, Jakarta Selatan
- Taman Darmawangsa, Jakarta Selatan
- Di depan Mal Gandaria City, Jakarta Selatan
- Di depan Gedung Wisma Mulia, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan
- Di depan kantor Kementerian Tenaga Kerja, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan
- Di belakang kantor Wali Kota Jakarta Selatan
- Di depan Muamalat Tower, Jalan Supomo, Jakarta Selatan
- Di depan Kampus Atmajaya dan Semanggi, Jakarta Selatan
- Di sepanjang Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan
- Di lampu merah Gandaria City, Jakarta Selatan
- Jalan Pejaten Raya
- Jalan Kebagusan II Jagakarsa

Jakarta Pusat
- Kolong Dukuh Bawah, Jakarta Pusat
- Di depan Hotel Ibis Budget, Cikini, Jakarta Pusat
- Di sepanjang Jalan R. Suprapto, Cempaka Putih, Jakarta Pusat

Jakarta Utara
- Di depan Gedung Altira, Jalan Yos Sudarso, Jakarta Utara
- Di perempatan MOI, Kelapa Gading, Jakarta Utara

Jakarta Barat
- Jalan S. Parman (Di depan Apartemen Slipi)

Jakarta Timur

- Kampung Melayu dan sekitarnya



Image Bildeco
Sumber: BMKG, Akun Twitter @BPBDJakarta dan @TMCPoldaMetro

 

Rabu, 13 Desember 2017

Seberapa Hijaukah Jakarta Diantara Kota-kota Besar Lainnya di Asia?

Index Kota Hijau (Green City Index) merupakan parameter untuk melihat apakah sebuah kota ramah lingkungan atau tidak berdasarkan sejumlah indikator yaitu konsumsi air, konsumsi energi, jumlah emisi CO2, ruang terbuka hijau, konsumsi limbah yang dihasilkan dan transportasi publik. 

Menurut survei yang dilakukan oleh Economist Intelligent Unit (EIU)  yang melakukan survei di 118 kota besar di dunia pada 2012 lalu dimana 22 diantara kota-kota besar tersebut berada di benua Asia, Jakarta masih menempati posisi rata-rata (average) diantara kota-kota besar lainnya di Asia. 

Berdasarkan rilis EIU tersebut, Jakarta berada di posisi rata-rata bersama Bangkok, Beijing, Shanghai, Guangzhou, New Delhi, Kuala Lumpur, Nanjing dan Wuhan. Sedangkan Singapura  menempati posisi well-above average yang bisa dilihat pada tabel berikut:

 Asia Green City Index 2012/EIU

Pengelolaan sampah dan air limbah dan penyedian ruang terbuka hijau di Jakarta masih dianggap belum baik.

Penyediaan ruang terbuka hijau di Jakarta bahkan masih dibawah kota Manila yang memiliki 4,5 m² untuk setiap penduduknya meskipun ibukota Philipina tersebut memiliki kepadatan penduduk setengah kali lipat lebih besar dari Jakarta. Jakarta baru mampu menyediakan 2 m² ruang terbuka hijau untuk setiap penduduknya.

Namun demikian, Jakarta menargetkan untuk mampu memiliki 30% ruang terbuka hijau di seluruh wilayahnya.

image:
ayoketaman.com
sumber:
afandriadya.com




Selasa, 12 Desember 2017

Permainan Anak-anak Apa Sajakah yang Sudah Punah di Ibukota?

 

Perubahan zaman merupakan hal yang pasti yang bisa berimplikasi positif maupun sebaliknya. Hal itu menjelaskan mengapa semua yang ada di kaki langit bersifat fana. Demikian juga dengan aneka permainan anak-anak masa kini yang lebih banyak didukung dengan kecanggihan teknologi. Pada post kali ini, penulis ingin menulis sedikit soal aneka jenis permainan anak-anak yang sudah sangat langka atau mungkin bisa dikatakan sama sekali punah karena sudah tidak dimainkan lagi oleh anak-anak masa kini, terutama di Jakarta yang menjadi tema sentral blog ini. 

Tetapi karena keterbatasan pengetahuan penulis, maka penulis tidak membahas implikasi positif dan negatif seperti apa dari aneka permainan tersebut terhadap perkembangan psikologis dan perilaku pada setiap generasi yang penulis hadirkan pada post kali ini karena hal itu menurut penulis merupakan 'domain' para psikolog.  


Para pembaca sekalian yang lahir pada 1960-an,1970-an hingga 80-an awal, menurut penulis merupakan generasi-generasi transisi dimana para generasi tersebut saat melewati masa anak-anak (childhood) masih sempat memainkan aneka jenis permainan yang di masa kini sudah jarang atau tak lagi dimainkan oleh para generasi sesudahnya seperti permainan congklak, permainan gundu, galasin, mobil-mobilan dari kulit jeruk dan lain sebagainya.

Para generasi ketiga dekade seperti di atas juga merasakan permainan dengan menggunakan gadget  (gawai) terutama yang lahir pada dekade 1970-an yaitu game watch hingga permainan yang akrab disebut sebagai dingdong.

Para generasi kelahiran 1970-an dan 1980-an awal ini juga merasakan permainan game online yang jamak dimainkan oleh para generasi kelahiran 1990-an dan milenial yang bisa jadi dimainkan oleh anak-anak mereka sendiri atau para keponakan mereka di masa sekarang.

Selain karena perkembangan teknologi, terbatasnya ruang publik di Jakarta membuat sejumlah permainan anak-anak sudah sangat jarang atau sudah tak bisa lagi dimainkan kecuali hanya pada acara-acara khusus seperti pada Perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia seperti balap karung, engrang, dan lain-lain.

Barangkali para pembaca ingin menambahkan sejumlah permainan anak-anak yang sudah jarang atau sama sekali punah dimainkan oleh anak-anak di Jakarta, selain aneka permainan yang telah penulis sebutkan di atas dengan menuliskannya pada kolum komentar yang ada. Terima kasih  :)

image: 
sahabatnesia.com

   

Selasa, 05 Desember 2017

Perlunya Kesadaran Sebagian Pengendara Ojek Online dalam Berlalu-Lintas di Jakarta dan Sekitarnya




Seperti diketahui, sejak akhir 2014 atau awal 2015 lalu, usaha ojek online mulai dikenal luas di Jakarta dengan kehadiran dua perusahaan terdepan yang menyediakan layanan ojek online yaitu Go-Jek dan Grab meskipun untuk perusahaan yang pertama, sebenarnya telah didirikan pada 2010 lalu.

Kehadiran kedua perusahaan ini kemudian tidak saja menarik banyak para pencari kerja untuk melamar menjadi driver/rider (pengendara) di perusahaan mereka seiring dengan informasi besarnya pendapatan yang diterima para pengendara ojek online, tetapi juga mengundang minat sejumlah perusahaan lainnya untuk ikut meramaikan persaingan di niche pasar tersebut. Selanjutnya kita mengenal Uber dan lain-lain walaupun untuk sekarang, menurut penulis 3 nama tersebut masih tetap dominan menguasai jalanan di ibu kota dan sekitarnya.

Selain itu, sebagaimana lazim terjadi pada berbagai hal yang baru yang juga memunculkan kontroversi, demikian juga yang terjadi pada fenomena kehadiran layanan ojek online ini seperti terjadi ketidaksenangan dari para pengendara ojek pangkalan yang berujung protes, keributan dan lain-lain.

Pada post kali ini, penulis hanya ingin menggoreskan suatu fenomena lainnya dari kehadiran para pengendara ojek online ini yang menggunakan gadget (gawai) untuk melihat order/pesanan yang mereka terima untuk selanjutnya mereka eksekusi.

Penulis sendiri juga menggunakan motor untuk mendukung aktivitas penulis sebagai seorang pengajar dan seringkali melihat dan mengalami pemandangan yang kurang menyenangkan dari sejumlah pengendara ojek online tersebut yang seringkali abai dengan keselamatan dirinya dan para pengguna jalan lainnya karena konsentrasi mereka terpecah demi melihat gawai yang mereka pegang tersebut.

Penulis sangat paham karena gawai itulah yang menjadi salah satu 'amunisi' para pengojek online, selain motor mereka tentunya, untuk mendapatkan order dari para pelanggan mereka. Hanya saja, karena sering dilakukan di tengah perjalanan membuat pengendara lainnya seperti penulis merasa kurang nyaman karena khawatir dengan keselamatan.

Untuk itu, penulis sangat berharap ada tindakan tertentu dengan fenomena tersebut dari pihak-pihak terkait seperti perusahaan dan aparat yang bertugas di jalan raya serta adanya kesadaran dari pengendara ojek online untuk senantiasa mengingat bahwa keselamatan para pengguna jalan lainnya yang mesti diperhatikan. Adalah lebih bijak untuk melihat gawainya dengan memberhentikan motor mereka dan menepi terlebih dahulu.

Image:
http://1.bp.blogspot.com

Bahasa Anak Zaman Now vs Bahasa Anak Zaman Old di Ibukota


Setiap zaman pastilah memiliki karakteristik generasi yang berbeda selaras dengan dinamika zaman yang melatarbelakanginya. Pun dengan bahasa atau lebih tepatnya aneka istilah yang digunakan oleh generasi mudanya yang di zaman kini acap disebut dengan anak 'zaman now' atau anak millenial itu. 


Generasi anak 'zaman now' bisa dikategorikan sebagai generasi yang lahir di paruh akhir 90-an atau di awal dan paruh pertama milenium, saat mana perkembangan arus informasi dan teknologi demikian masifnya yang ditandai dengan perkembangan telepon seluler dan internet.

Bila generasi 'zaman old' di ibukota memiliki aneka istilah seperti 'kemek' untuk mengatakan makan, 'bokul' untuk mengatakan beli, 'suping' untuk mengatakan pusing dan sebagainya, maka anak 'zaman now' memiliki istilah seperti 'kepo' untuk mengatakan ingin tahu, 'cupu' untuk mengatakan payah, 'kudet' untuk mengatakan kurang mengetahui informasi terkini, dan lain sebagainya.

Bila berbagai istilah generasi anak 'zaman old' pernah membuat seorang artis menyusun dan menerbitkan sebuah kamus bahasa yang akrab mereka gunakan dalam pergaulan keseharian mereka itu ke dalam sebuah Kamus Bahasa Prokem, penulis belum menemukan hal yang sama pada generasi anak 'zaman now'. Mungkin juga karena penulis yang 'kudet' :)

Barangkali hal ini terkait dengan kecenderungan yang terjadi di zaman anak 'zaman now' hidup dimana mereka hidup dengan berbagai gadget (gawai) selaras dengan dinamika zaman. Fenomena ini agaknya memberi pengaruh kepada cara anak 'zaman now' berinteraksi satu sama lainnya.

Berbeda dengan generasi 'zaman old' yang masih menggunakan sarana telepon, termasuk telepon umum seperti telepon koin atau wartel untuk berkomunikasi. Sedangkan generasi yang 'older' lagi masih menggunakan sarana korespondensi seperti surat sehingga agaknya kemampuan komunikasi tertulis (written) serta minat baca mereka jauh lebih baik dibandingkan dengan generasi di bawah mereka.

image:  4.bp.blogspot.com

      

Sabtu, 02 Desember 2017

Bijaklah Membangun Polisi Tidur



Sebagai seorang pengguna motor untuk mendukung aktivitas sehari-hari, penulis kadang suka merasa kesal bila menemukan jalanan yang banyak dibangun polisi tidurnya, terlebih bila jalanan itu hanya cukup memuat satu mobil untuk dilewati karena bila kita berada di belakangnya akan membuat kita kesulitan untuk melewatinya. Apalagi saat kita sedang terburu-buru.  

 

Polisi tidur mungkin bertujuan baik untuk memperlambat laju kecepatan kendaraan terutama di daerah-daerah pemukiman yang memiliki banyak anak-anak, tempat-tempat ibadah dan sekolah-sekolah. 

Namun demikian, penulis sepakat dengan apa yang ditulis pada wikipedia, yang menyebut bila polisi tidur yang umumnya ada di Indonesia, terutama di Jakarta, khususnya lagi di wilayah Jagakarsa Jakarta Selatan lebih banyak yang bertentangan dengan desain polisi tidur yang diatur berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan No. 3 Tahun 1994 dan hal yang demikian ini bahkan dapat membahayakan keamanan dan kesehatan para pemakai jalan tersebut.

Bila pembaca yang sering atau pernah melewati sejumlah jalan di bilangan Jagakarsa seperti penulis, pasti mengetahui di jalan-jalan mana saja polisi tidur itu banyak ditemukan. 

Tingginya polisi tidur dan terlalu dekatnya jarak dari satu polisi tidur ke polisi tidur lainnya yang dibangun, menurut penulis bisa berakibat fatal apabila di malam hari jalanan itu juga tidak dilengkapi dengan penerangan yang memadai. Demikian juga bagi para wanita hamil yang naik motor.  

Menurut pengamat Transportasi dari ITB Saptahari Sugiri yang penulis kutip dari rappler.com,  mengatakan bahwa polisi tidur memang menjadi salah satu penyebab kecelakaan, terutama kecelakaan tunggal. Polisi tidur, kata Saptahari, merupakan penyebab kecelakaan tunggal terbanyak selain jalan rusak.

Selain itu, penulis mengira beberapa polisi tidur dibangun dengan seenaknya oleh para pemilik bangunan di depan jalanan itu, seperti oleh para pemilik tempat usaha dan lain-lain. 
Padahal, berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan No. 3/1994 seperti disebut di atas, juga telah mengatur bahwa membangun polisi tidur tidak boleh dilakukan sembarangan dan ada sanksi hukumnya bila seseorang atau sekelompok orang membangun polisi tidur tanpa memiliki kewenangan.



Mereka yang membangun polisi tidur tanpa kewenangan bisa dianggap melanggar Pasal 105 ayat (1) Perda DKI Jakarta 12/2003 dan dikenakan pidana kurungan paling lama 3 bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp 5.000.000,00 (lima juta rupiah).

Penulis berharap ada sosialisasi masif secara nasional terkait hal ini oleh pihak yang berwenang, pun oleh pihak berwenang yang berada di setiap wilayah/kawasan. Jika perlu dikampanyekan melalui tayangan iklan di televisi.

Well … Penulis menghadirkan tulisan ini dipicu oleh kekesalan penulis melihat fenomena bahasan post ini yang sekaligus menjadi tambahan wawasan bagi penulis sendiri dan semoga juga para pembaca sekalian terkait bahasan ini :)

Terpikir juga mengapa ia disebut sebagai polisi tidur. Seperti dari dikutip Wikipedia yang ditulis di atas, yang menyebut tidak jelas siapa pencipta ungkapan polisi tidur dan sejak kapan ungkapan itu digunakan dalam pertama kali dalam Bahasa Indonesia. Kemungkinan istilah tersebut berasal dari Bahasa Inggris Britania (British English),  sleeping policeman.

Frase ‘polisi tidur’ juga sudah dicatat oleh Abdul Chaer dalam Kamus Idiom Bahasa Indonesia yang diterbitkan pada 1984 yang diberi makna "rintangan (berupa permukaan jalan yang ditinggikan) untuk menghambat kecepatan kendaraan". 

Istilah polisi tidur  juga tercantum dalam KBBI Edisi Ketiga (2001) dan diberi makna "bagian permukaan jalan yang ditinggikan secara melintang untuk menghambat laju kendaraan".

Sedangkan bila merujuk pada Kamus Indonesia-Inggris yang sering menjadi rujukan di Indonesia yaitu kamus yang disusun oleh John M.Echols dan Hasan Shadily mencantumkannya dengan traffic bump, tepatnya pada Edisi Ketiganya yang diterbitkan pada tahun 1989 lalu.


Image:
jogjaupdate.com
                                                              
                                                  wikipedia/rappler