Tampilkan postingan dengan label Rumah Ibadah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rumah Ibadah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Desember 2017

Pura Aditya Jaya: Pura Umat Hindu Terbesar di Jakarta

   

Bila kita melewati Jalan Ahmad Yani di Wilayah Kotamadya Jakarta Timur atau masyarakat di sekitar sering menyebutnya sebagai bypass saja, kita bisa melihat sebuah bangunan beraksitektur megah nan indah bernuansa Pulau Dewata atau Pulau Bali, sebuah pulau yang kabarnya lebih dikenal daripada Indonesia di dunia internasional. 


Pada post kali ini, penulis ingin menggoreskan sedikit catatan tentang bangunan tersebut yang ternyata adalah sebuah pura, rumah ibadah umat Hindu. Pura itu bernama Pura Aditya Jaya yang sekaligus merupakan pura terbesar di Jakarta.

Kehadiran pura tersebut mengindikasikan bahwa Jakarta dan masyarakatnya adalah masyarakat yang toleran kepada semua agama yang diakui di tanah air. Sebuah perwujudan dari Bhinneka Tunggal Ika yang kita semua banggakan dan senantiasa kita jaga itu.

Pura tersebut mulai dibangun sejak tahun 1972 silam dan menempuh sejumlah tahapan hingga seutuhnya rampung pada 1997 silam atau pada dua dekade lalu.

Penulis sendiri terus terang belum pernah memasukinya walaupun sangat ingin untuk sekedar memotret dan bertanya-tanya layaknya wartawan :), karena kabarnya pura yang dibangun di area yang luas nan teduh ini terbuka pula untuk umum, tentu saja asal tidak mengganggu kegiatan saudara-saudara sebangsa kita yang tengah beribadah.

Untuk kali ini penulis menuliskannya sedikit saja dulu. Mungkin bila ada kesempatan bisa berkunjung ke sana untuk memotret keindahan arsitektur bangunan itu dan bertanya-tanya tentang pura ini ... Semoga ...

Image: tirtayatra

Sumber: thearoengbinangproject

Selasa, 28 November 2017

Gereja Koinonia Jatinegara




Seperti diketahui, Jatinegara merupakan salah satu kawasan sentra bisnis yang ramai di Wilayah Jakarta Timur seiring dengan keberadaan Pasar Grosir Jatinegara.


Jatinegara juga menjadi akses utama menuju ke berbagai wilayah lainnya di Jakarta dan sekitarnya karena adanya Stasiun Jatinegara dan Terminal Kampung Melayu.

Selain itu, Jatinegara juga merupakan kawasan pertama di Jakarta Timur (dahulu disebut Batavia Timur) yang memiliki sebuah gereja yang dibangun sekitar tahun 1889 silam sebelum direnovasi selama 5 tahun yaitu dari tahun 1911 hingga 1916.

Setelah proses renovasi selesai, gereja itu kemudian diberi nama Bethelkerk dan digunakan oleh De Protestantse Kerk in Westelijk Indonesie, lalu menjadi GPIB Bethel Jemaat Djatinegara,  hingga sejak 1 Januari 1961 sampai sekarang menjadi  GPIB Jemaat Koinonia Jakarta. 

Gereja Koinonia yang memiliki gaya arsitektur apik ini sejak tahun 2005 lalu telah ditetapkan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta sebagai sebuah situs cagar budaya.

Gereja Koinonia ini sendiri berada pada sebuah sudut strategis di antara dua jalan yakni Jalan Matraman Raya dan Jatinegara Barat.

Sumber:

gpibkoinonia.wordpress.com
https://hot.detik.com

image:
paradizhop.blogspot.co.id


Minggu, 26 November 2017

Mesjid Agung Sunda Kelapa Menteng





Mesjid Agung Sunda Kelapa Menteng yang terletak di belakang Gedung Bappenas ini merupakan salah satu mesjid yang penulis sukai walaupun sejak beberapa tahun terakhir ini jarang berkunjung ke sana.


Sekitar satu dekade yang lalu, penulis saban hari yakni dari Senin hingga Jumat mampir ke mesjid ini untuk shalat Maghrib berjamaah.

Well … Di masa itu penulis bekerja di Jalan Hayam Wuruk Jakarta Barat dan tinggal di Anggrek Nelly Murni Slipi, tak jauh dari kantor pusat sebuah partai politik yang juga terletak di Jakarta Barat. Saban hari penulis selesai bekerja jam 5 atau setengah 6 sore.

Seperti yang telah penulis sampaikan di bagian Prolog blog ini, bahwa sebagian post yang ada berisi tulisan jenis Recount, maka penulis menghadirkan tulisan ini dalam jenis tulisan seperti itu.

Kembali ke bahasan, penulis memang lebih memilih ke Mesjid Sunda Kelapa daripada langsung pulang ke Slipi karena jam-jam sekitar itu jalanan menuju Slipi sangat macet. Ditambah lagi penulis juga menyukai jalanan di kawasan elit Menteng yang tak semacet jalanan menuju Slipi.

Karena bisa dicapai dalam waktu yang tak terlalu lama dengan motor dari Jalan Hayam Wuruk, maka penulis selalu bisa shalat Maghrib tepat waktu di Mesjid Sunda Kelapa, walaupun di sekitar Hayam Wuruk sebenarnya terdapat beberapa mesjid dan mushala.

Tidak jarang, penulis juga menunaikan shalat Isya di Mesjid Sunda Kelapa karena selalu rutin menyelenggarakan berbagai kajian kerohanian setelah menunaikan shalat Maghrib yang diadakan oleh pengurus mesjid dan Remaja Islam Mesjid Sunda Kelapa (RISKA) sehingga penulis selalu mendapatkan pencerahan dan merasa sejuk ketimbang meluangkan waktu untuk nongkrong ke tempat-tempat lainnya.  

Salah satu mubaligh yang penulis sukai waktu itu adalah Aa Hadi Wibowo yang ternyata merupakan kakak dari teman sekolah penulis di masa SMA yang juga menjadi mubaligh yakni Aa Reza. Aa Hadi ternyata juga adalah salah satu senior penulis dari SMA yang sama dan penulis baru mengetahui beberapa tahun kemudian. 

Selepas melaksanakan shalat, penulis biasanya bersantap malam di warung-warung makanan yang ada di sekitar mesjid, untuk selanjutnya pulang ke Slipi yang kemacetannya sudah berkurang sehingga penulis merasa lebih nyaman untuk menyusuri jalanan menuju Slipi. 

Dikutip dari Wikipedia, Mesjid Sunda Kelapa yang tak berkubah ini dibangun atas prakarsa Ir. Gustaf Abbas, seorang arsitek lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang juga mendesain Mesjid Salman yang berada di Jalan Ganesha, Bandung. 

Mesjid Sunda Kelapa memiliki bentuk bangunan yang khas dan berbentuk perahu yang menjadi symbol Pelabuhan Sunda Kelapa yang dijadikan nama mesjid ini. 

Sejumlah petinggi Tentara Nasional Indonesia (TNI) ikut andil mendukung gagasan Abbas dengan memberikan bantuan dana awal pembangunan Mesjid Sunda Kelapa yang kemudian dilanjutkan dan diselesaikan di masa pemerintahan Gubernur Ali Sadikin pada 1970. 

Mesjid Sunda Kelapa memiliki Ruang Ibadah Utama, Aula Sakinah, dan Serambi Jayakarta yang berdiri di area lahan seluas 9.920 m² dan mampu menampung 4.424 jemaah. 

Image:
 dimasjid.com

Sumber:
wikipedia



Minggu, 12 November 2017

Mesjid Baitul Ma’mur Srengseng Sawah




Mesjid Baitul Ma’mur seluas 2140 meter persegi yang berada di kawasan Srengseng Sawah dan tak jauh dari Setu Babakan ini memiliki desain arsitektur khas Betawi, sehingga mesjid ini bisa dikatakan sebagai suatu ikon kebanggaan masyarakat Betawi, tidak saja bagi masyarakat Betawi yang berada di Srengseng Sawah, tetapi juga bagi masyarakat Betawi di seluruh wilayah Jakarta.


Keberadaan mesjid yang asri dan bersih ini juga menambah keindahan Srengseng Sawah, apalagi terletak di kawasan rindang yang memiliki banyak pepohonan.

Pihak pengurus mesjid juga sangat disiplin untuk melakukan perawatan dan tentu saja memakmurkan mesjid ini dengan berbagai kegiatan rutin.

Seperti yang penulis kutip dari suaramasjid.com, (dalam sejarahnya, proses pendirian mesjid ini dimulai  pada 1958 silam dimana saat itu masih berupa langgar/surau yang dibangun di atas tanah wakaf milik Engkong Jaba.


Lalu di masa gubernur Tjokropranolo tepatnya pada 1978, bangunan langgar ini mengalami pelebaran sekitar 1000 M yang diwakafkan oleh H. Miat, maka sejak itulah langgar itu bermetamorfosis menjadi mesjid.


Berikutnya pada masa gubernur Sutiyoso yaitu pada 2002, mesjid ini kembali mengalami renovasi yang diarsiteki oleh H. Agus Aseni yang merupakan ketua tim Pengelola Perkampungan Budaya Betawi (PPBB) yang diselesaikan dua tahun kemudian.

Sumber: suaramesjid.com
image:    pribadi