Dialek Betawi

Mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, Dialek/di.a.lek/nomina adalah variasi bahasa yang digunakan berdasarkan perbedaan wilayah tertentu, kelompok sosial tertentu, atau kurun waktu tertentu. Masyarakat Indonesia pada umumnya mengenal dialek etnis Betawi dengan menggunakan akhiran (e) pada setiap kata yang mereka gunakan. 

Penggunaan dialek etnis Betawi dapat diklasifikasi berdasarkan pengaruh akulturasi budaya dan tempat tinggal (domisili). 

1. Pengaruh Akulturasi Budaya

Batavia atau Jakarta tempo dulu telah didiami oleh berbagai macam etnis dan bangsa, sehingga sedikit banyak berpengaruh pada budaya etnis Betawi (akulturasi budaya), salah satunya pada bahasa. 

Akulturasi pada bahasa Betawi tersebut ada yang berasal dari Belanda seperti kata preman yang berasal dari kata vrijman, Tionghoa pada kata cepe (uang seratus), Arab pada kata ane (saya). 

Demikian juga dengan akulturasi budaya yang berasal dari etnis domestik terutama dari etnis Melayu (paling dominan), Sunda, dan Jawa. Kata kemane merupakan akulturasi dari bahasa Melayu, kata dilebok merupakan akulturasi dari bahasa Sunda, serta kata ora merupakan akulturasi dari bahasa Jawa. 

2. Pengaruh Wilayah Tempat Tinggal

Penggunaan akhiran (e) pada berbagai kata digunakan oleh etnis Betawi yang dulunya mendiami  bagian sentral Jakarta atau dikenal sebagai Betawi tengah atau Betawi kota meskipun karena dinamika zaman yang menyebabkan sebagian besar etnis Betawi kota berpindah ke wilayah pinggiran ibukota membuatnya sudah semakin kabur untuk menegaskan apakah seorang individu dari etnis Betawi merupakan bagian dari Betawi kota atau bukan. 

Betawi kota antara lain tinggal di Kwitang, Kramat, Kebayoran, Sawah Besar, Cilincing, dan Kemayoran. Mereka ini dianggap sebagai etnis Betawi sejati. Contoh penuturnya adalah almarhum Benyamin S yang merupakan salah satu tokoh budaya Betawi legendaris.

Penggunaan fonem (e) ada yang berlafaz (e) pepet dan ada juga yang berlafaz (e) talim. 

Sedangkan untuk etnis Betawi yang tinggal di wilayah-wilayah seperti Condet, Jagakarsa, Depok, Ciputat, Pondok Cabe dan Bintaro adalah etnis Betawi pinggir atau sering juga disebut sebagai Betawi ora.

Berbeda dengan dialek Betawi kota yang menggunakan akhiran (e), dialek Betawi ora lebih banyak menggunakan akhiran (a) yang lafaznya berbunyi (ah) seperti pada siapah, napah, babah dan lain-lain sebagaimana dialek yang diucapkan oleh Mandra dan almarhumah mpo Nori.  


       Image:   
   momm-on-the-net.blogspot.com 

       Sumber:

       budaya-indonesia.org

  

 

 


 

0 komentar