Rasanya Gurih dan Beraroma Wangi. Itulah Kue Rangi

Seperti halnya dalam menjalankan sebuah usaha, katakanlah sebuah usaha toko pakaian, seorang pedagang yang mengelola toko tersebut secara berkala tentunya melakukan rekapitulasi dari usaha toko yang dijalankannya seperti mengevaluasi jenis dan merek pakaian apa saja yang diminati oleh para pelanggannya, cash flow, dan lain sebagainya. Begitu juga hal yang penulis lakukan terhadap blog ini.  

 

Setelah post pertama pada Rabu (8/11/2017) lalu, sejauh ini penulis menyimpulkan bila para pengunjung blog ini lebih banyak membaca tentang Rubrik Kuliner, yang dibuktikan dengan 2 post bahasan terkait masuk dalam 3  post paling populer dari seluruh daftar post yang ada seperti yang bisa dilihat oleh para pembaca pada sisi kanan tulisan ini.  

 

Pada post awal sengaja penulis beri judul Prolog  yang dihadirkan juga pada About Us  blog ini dimana penulis menjelaskan tentang konten-konten blog ini yang tidak hanya membicarakan soal Kuliner,  tetapi juga hal-hal lainnya seperti Kawasan, Bangunan Bersejarah, Fenomena  dan lain-lainnya selaras dengan tema sentral dan nama blog ini.

Nah, pada post kali ini kembali penulis menghadirkan soal kuliner yakni Kue Rangi.  Apalagi hari ini adalah  hari Sabtu dimana sebagian pembaca sedang berlibur. Jadi para pembaca terutama kaum hawa mungkin bisa mencoba membuatnya untuk disajikan sebagai cemilan menemani saat bersantai bersama keluarga.

Selain itu, bila pembaca berdomisili di sekitar Jagakarsa dan sekitarnya,  maka bisa membelinya dari para penjual yang berkeliling dengan menggunakan sepeda atau gerobak meskipun tergolong langka.

Seperti apa sih Kue Rangi itu?

Well ... Kue rangi adalah salah satu jenis kue tradisional Betawi yang terbuat dari campuran tepung kanji, air, garam dan parutan kelapa tua yang dipanggang dengan menggunakan kayu bakar sehingga membuat rasanya menjadi gurih dan aromanya menjadi wangi. Mungkin kata Rangi itu adalah akronim dari frase-frase berikut: RAsaNya GurIh & beraRoma wANGI ... Ngarang ding :)

Campuran tepung kanji, air, garam dan parutan kelapa tua tadi ditaruh pada tungku kecil dan dipanggang  menggunakan cetakan khusus seperti cetakan kue pancong. Namun demikian, para pedagang yang menjajakannya seringkali tidak menggunakan cetakan khusus tersebut melainkan sedikit mengecilkan ukuran kuenya.

Karena masyarakat Betawi sering menyebut tepung kanji dengan sagu, maka kue rangi acap pula disebut dengan Sagu Rangi

Setelah melalui proses pemanggangan, kue rangi yang telah matang tersebut biasanya disajikan dengan olesan gula merah (seperti terlihat pada gambar) yang agak kental dan sedikit dicampur dengan tepung kanji.

Untuk menggugah selera, gula merah tersebut seringkali juga dicampur dengan potongan buah-buahan seperti durian, nangka, dan nanas.



image:
i.ytimg.com

sumber:
wikipedia

0 komentar